Pengantar Buku

Pergerakan Kebangsaan

Sudaryanto

Perkenalan saya dengan fenomenologi terjadi pada awal tahun-tahun 1980an, ketika saya masih mengikuti kuliah di Jurusan Filsafat Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Waktunya yang persis saya sudah tidak ingat lagi. Waktu itu dibuka kuliah fenomenologi yang diasuh oleh Dr. Soerjanto Poespowardojo, Ketua Jurusan Filsafat. Saya sudah jatuh cinta kepada fenomenologi pada hari pertama mengikuti kuliah. Dengan ekspresi yang menurut pendapat saya sangat kuat, Pak Soerjanto menjelaskan dengan baik sekali makna semboyan dalam gerakan fenomenologi Back to the things themselves sebagai titik awal untuk membebaskan filsafat dari segala macam prasangka dan prakonsepsi. Menarik. Karena pada waktu itu banyak jargon-jargon politik yang diselimuti oleh mantel prakonsepsi dan prasangka-prasangka subyektif, terutama yang menunjuk pada entitas-entitas politik yang terlibat dalam pertarungan ideologis atau pseudo-ideologis. Fenomenologi, saya pikir, dapat membersihkan diri dari macam-macam prakonsepsi dan prasangka seperti ini, termasuk yang menyangkut diri kita sendiri. Fenomenologi dapat mencegah subyektivisme.

Kuliah fenomenologi juga mendorong saya untuk rajin memasuki perpustakaan Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Itu karena buku-buku filsafat hampir tidak bisa saya temukan di perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Dengan berbekal kartu mahasiswa jurusan filsafat, saya diijinkan untuk menggunakan perpustakaan STF Driyarkara dan mengkopi buku-buku yang saya perlukan, kecuali buku-buku yang termasuk dalam Daftar G. Buku-buku Daftar G hanya bisa dibaca di perpustakaan, tetapi tidak boleh difotokopi. Meskipun saya bukan mahasiswa yang rajin mengikuti kuliah, tetapi saya tergolong rajin membaca di perpustakaan STF. Seringkali saya sudah datang ketika perpustakaan dibuka dan baru pulang ketika perpustakaan mau ditutup. Di perpustakaan STF inilah saya banyak bergulat dengan masalah-masalah fenomenologi dan kadang-kadang iseng membaca satu-dua buku Daftar G.

Terus terang bisa saya katakan, motivasi membaca buku-buku fenomenologi bukan berasal dari kebutuhan untuk lulus ujian, juga bukan karena ingin menjadi spesialis fenomenologi, tetapi dari keinginan subyektif untuk bisa menggunakan fenomenologi sebagai alat bantu gerakan. Itulah sebabnya, tanpa harus menunggu tuntas membaca buku-buku yang dianggap penting dalam kasanah teks fenomenologi, juga tanpa harus menunggu menjadi sarjana filsafat, pada awal tahun-tahun 1980an itu saya paksakan untuk memberikan serangkaian ceramah fenomenologi di Surabaya dan Yogyakarta. Secara umum, respons teman-teman mahasiswa cukup bagus, meskipun itu hanya ceramah dari seorang amatir. Rangkaian ceramah itu sedikit banyak berhasil mengubah cara pandang teman-teman aktivis gerakan mahasiswa, mengurangi secara signifikan kadar subyektivismenya, dan secara perlahan-lahan mengubah perjuangan ideologis yang eksklusif menjadi inklusif. Terima kasih, fenomenologi.

Melalui reformasi 1998, kekuasaan monolitik satu polar ditumbangkan dan proses demokratisasi bergulir. Bersama-sama dengan itu juga terbangun iklim keterbukaan yang dalam waktu singkat telah membuat bangsa Indonesia sangat kaya dengan informasi. Sayangnya, kekayaan akan informasi ini tidak dibarengi dengan meningkatnya kekayaan pikiran bangsa Indonesia. Justru sebaliknya, luberan informasi ini direspons dengan kedangkalan pikiran bangsa yang tercermin pada cara berpikir elitnya. Filsafat, khususnya fenomenologi, seharusnya dapat memberikan sumbangan yang berarti untuk memerangi banalitas pikiran ini dan mengintegrasikan luberan informasi yang berhamburan itu menjadi fakta yang dapat dipahami. Filsafat tidak boleh tinggal diam dan membiarkan bangsa Indonesia dipermainkan oleh berbagai penampakan tanpa mengenal identitas yang sesungguhnya dan hanya dapat melihat bagian-bagian tanpa mengenal sosok keseluruhannya. Filsafat, sekali lagi khususnya fenomenologi, seharusnya dapat membantu bangsa Indonesia untuk membebaskan diri dari kungkungan horison artifisial yang diciptakan oleh politik pencitraan dan politik limatahunan paska reformasi. Fenomenologi sebagai “ilmu tentang penampakan,” melalui kajian deskriptif-fenomenologis terhadap apa-apa yang ditampakkan (dalam pencitraan), dengan mudah akan dapat membongkar kepalsuan-kepalsuannya, melalui penyingkapan struktur-strukturnya yang paling mendasar. Fenomenologi menyediakan “alat metodologis” untuk melakukan itu.

Terdorong oleh keinginan untuk mempersenjatai teman-teman pergerakan dengan “ilmu” untuk memerangi banalitas pikiran di tengah-tengah luberan informasi paska reformasi, pada tanggal 25 sampai dengan 27 Februari 2011, saya mengundang teman-teman Pergerakan Kebangsaan untuk mendengarkan sebuah paparan, yang saya persiapkan di bawah tema “Fenomenologi sebagai Alat Bantu Gerakan.” Saya berharap fenomenologi dapat memperluas dan memperdalam jelajah sensibilitas teman-teman dalam gerakan. Saya sadar, kekurangan-kekurangan bahkan kesalahpahaman, dalam menangkap tema-tema yang dibicarakan dalam fenomenologi bisa terjadi. Interpretasi terhadap semboyan gerakan fenomenologi “Back to the things themselves”, misalnya, pasti beragam. Bahkan di antara para fenemenolog sendiri pun tidak dapat kita temukan interpretasi tunggal. Tapi paling tidak, ajakan fenomenologi untuk “kembali kepada benda-benda itu sendiri”, akan membuat mereka melihat, mendengar, dan menaruh perhatian yang lebih besar kepada fenomena, lebih besar dari yang dilakukan oleh empirisme konvensional.

Setelah kursus fenomenologi selama tiga hari dua malam di rumah pergerakan BSD di atas, kata fenomenologi sering dimunculkan dalam pembasisan Pancasila yang diselenggarakan setelah itu, antara lain untuk menjelaskan konsep “senyawa antara pemburu rente dan oligarki politik” yang membentuk rejim polyarchy electoralism sekarang ini, atau sekedar untuk menegaskan kembali bahwa Pancasila itu bukan dimaksudkan sebagai kaidah moral individual. Dengan mengacu kepada fenomenologi sebagai “alat metodologis”, konsep-konsep tersebut menjadi lebih mudah dipahami. Hanya dengan membaca “Back to the things themselves” menjadi “Kembalilah kepada Pancasila itu sendiri,” dengan mudah dapat dielakkan semua jenis pemahaman yang menempatkan Pancasila sebagai kaidah moral individual; dan dengan demikian salah satu sumber krisis dalam pemahaman Pancasila dapat dieliminasi.

Dalam dua tahun terakhir ini, “demam fenomenologi” menjangkiti kalangan pegiat Pergerakan Kebangsaan. Banyak tuntutan dari daerah-daerah agar saya berlaku adil dengan jalan menyempatkan diri untuk keliling ke daerah-daerah khusus untuk memberikan kursus serupa di daerah mereka masing-masing. Tuntutan juga datang dari mereka yang sudah pernah mengikuti kursus, agar dilakukan kursus-kursus lanjutan supaya mereka dapat memahami fenomenologi lebih jauh. Karena dua tuntutan inilah, akhirnya Komite Nasional Pergerakan Kebangsaan mengundang Mas Ito Prajna-Nugroho untuk memberikan serangkaian kuliah fenomenologi di depan pegiat pergerakan. Mas Ito bukan hanya menyampaikan kuliah-kuliahnya di Jakarta, tetapi juga menyempatkan diri untuk datang di Surakarta, Surabaya, Medan, dan Yogyakarta. Yang terakhir, Mas Ito memberikan kuliah tengah malam, yang baru dimulai jam 23.00 dan selesai menjelang subuh, tentang “Lebenswelt” pada tanggal 8 Desember 2012.

Kehadiran Mas Ito untuk memberikan kuliah di beberapa tempat dan beberapa kesempatan, dengan sendirinya, menambah gairah teman-teman untuk belajar fenomenologi. Demam fenomenologi pun berlanjut. Dari mas Ito, teman-teman bukan sekedar belajar fenomenologi sebagai “alat bantu gerakan,” tetapi juga belajar mengambil sikap yang tepat menghadapi realitas politik di depannya dan mengenal bagaimana fenomenologi dioperasikan oleh para fenomenolog politik seperti Carl Schmitt dan Jan Patočka. Melalui kuliah-kuliahnya ini, Mas Ito pun dengan baik telah menjalankan amanat pendiri gerakan fenomenologi Edmund Husserl bahwa persoalannya bukan terletak pada bagaimana manusia mengetahui dan mencari hukum sebab-akibat dari realitas, tetapi bagaimana manusia dapat memberi makna pada hidupnya dengan bersikap tepat di hadapan dunia.

Buku kecil yang diterbitkan oleh Sanggar Pembasisan Pancasila ini adalah kumpulan tulisan Mas Ito Prajna-Nugroho yang dipersiapkan sebagai bahan kuliahnya di depan komunitas Pergerakan Kebangsaan dan ceramahnya di depan para aktivis gerakan di Surabaya yang diselenggarakan oleh Pusat Hak Asasi Manusia (Pusham) Universitas Airlangga bekerja sama dengan Pergerakan Kebangsaan. Ada catatan kecil yang ingin saya ungkapkan di sini, sehubungan dengan ceramah mas Ito di depan para aktivis gerakan di Pusham Unair. Dari banyak tema yang dikemukakan mas Ito dalam ceramahnya, satu tema sangat menarik perhatian para aktivis, yaitu masalah “merawat jiwa.” Tidak kurang dari Ketua Pusham Unair sendiri, mas Bambang Budiono, memberikan komentar cukup banyak tentang merawat jiwa ini. Rupanya ini merupakan ungkapan kegalauan para aktivis sendiri, yang akhir-akhir ini merasakan adanya kebuntuan dalam gerakan-gerakan yang mereka bangun dan mereka lakukan. Terjadi krisis pemahaman atas diri sendiri dan situasi yang mengepungnya. Atau dalam bahasa fenomenologis, gagal membangun relasi yang tepat dengan realitas dihadapannya. Jalan untuk merawat jiwa itu akan kita temukan kalau kita membaca buku Fenomenologi dan Politik tulisan mas Ito itu dengan teliti. Atau kalau belum ketemu juga, adalah menjadi tugas mas Ito untuk mencarikan jalannya melalui tulisan-tulisan berikutnya.

Secara lebih umum dapat dikatakan, problem merawat jiwa adalah problem manusia modern, yang sudah melupakan “kebenaran hakiki” yang dulu selalu dicari. Justru pada titik inilah fenomenologi menawarkan diri untuk mengobati. Mudah-mudahan buku ini bermanfaat untuk kita semua.

Jakarta, 30 Januari 2013

Soedaryanto

About these ads

One thought on “Pengantar Buku

  1. masyarakat pemantau mengatakan:

    yang jelas demokrasi yang dibangun dan partai politik yang ada saat ini adalah demokrasi borjuasi, karena tidak beridiologi, tidak memberikan pendidikan politik pada konstituen sehingga tidak mempunyai basis anggota yang terhitung dan jumlahnya jelas dari waktu ke waktu

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s