Cukilan Buku Fenomenologi Politik

COVER2Jan Patočka melepaskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Praha di bawah pengawasan dan interogasi Polisi Dinas Rahasia Cekoslovakia (StB). Ia meninggal karena perdarahan otak dan komplikasi jantung setelah mengalami interogasi selama lebih dari 10 jam pada 13 Maret 1977. Vaclav Havel adalah murid sekaligus sahabat yang juga mengalami sikasaan dan interogasi bersama Patočka, dan ada di sampingnya ketika Patočka menjelang ajal.

Jan Patočka bukanlah seorang politikus, bukan aktivis sosial-politik, bukan selebritis, bukan juga anggota partai, bukan seorang revolusioner, apalagi seorang anarkis. Seumur hidupnya ia tidak lain adalah seorang pemikir, yaitu seseorang yang dalam diam-hening yang jauh dari hingar-bingar dunia publik secara intensif bergulat dengan dunia gagasan filsafat dan pemikiran. Tetapi kemudian ia menjadi begitu berbahaya bagi kelangsungan suatu rezim kekuasaan, dan harus menanggung resiko terjauh yang dapat muncul dari sikap kritis dan keterlibatan pemikiran/politik: kematian. Apa yang berbahaya dari Patočka bukanlah sikap revolusioner dan aktivitas politiknya. Bagi rezim yang berkuasa ketika itu, apa yang berbahaya dari Patočka tidak lain adalah pemikirannya. Pemikiran menjadi begitu berbahaya karena kemampuannya mengubah cara-pandang atau cara-berpikir setiap orang dan dengan itu menerobos segala keterbatasan dan kekangan situasi konkret. Pemikiran menjadi berbahaya sebab ia memprovokasi daya pikir setiap orang untuk keluar dari keterbatasannya, dan dengan itu menggerakkan suara hatinya untuk mengambil sikap otentik di hadapan realitas.

Dalam hal ini Patočka menegaskan kembali apa yang telah dikatakan oleh Edmund Husserl dan Martin Heidegger sebelumya, bahwa ‘berpikir’ adalah tindakan/perbuatan yang sejati, dan seluruh krisis dunia modern bersumber pada kelumpuhan manusia yang tidak lagi dapat berpikir kritis, luas, dan mendalam. Patočka harus membayar penegasan filosofis ini dengan harga yang ekstrem: hidupnya sendiri.

Inilah juga sebabnya Paul Ricoeur, seorang filsuf Prancis berpengaruh, menyebut Jan Patočka sebagai: Sang Filsuf Pembangkang atau Sang Filsuf Perlawanan (le philosophe de dissident / a philosopher of resistance).

(Dikutip dari: Ito Prajna-Nugroho, Fenomenologi Politik – Membongkar Politik Menyelami Manusia, Purworejo: Sanggar Pembasisan Pancasila, 2013, Bab 7)

One thought on “Cukilan Buku Fenomenologi Politik

  1. ivanillich mengatakan:

    Tiada revolusi sosial tanpa revolusi berpikir, tiada revolusi berpikir tanpa konfrontasi ide. Bukan bgitu Mas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s