Seminar Bedah Buku

Fenomenologi Politik :

Membongkar Politik Menyelami Manusia

Di FISIP UNAIR, Surabaya

Dasar Pemikiran

Ito Prajna-Nugroho

Membangun gerakan sosial bukanlah perkara mudah. Sepanjang sejarah gerakan sosial yang pernah dibangun di Indonesia, pergerakan kebangsaan di masa revolusi kemerdekaan Indonesia patut menjadi acuan. Membaca kembali sejarah pergerakan kebangsaan pada periode itu, kita mengenal tokoh-tokoh pegerakan nasional yang penuh dengan visi dan semangat yang sangat tinggi. Visi yang tajam dengan semangat yang tinggi itu menjadi katalisator militansi kader-kader pergerakan pada masa itu. Bukan uang yang menggerakkan insan pergerakan pada periode itu, akan tetapi cita-cita akan masa depan yang terumuskan dalam visi yang tajam itulah yang menjadi daya pendorong utama perjuangan mereka. Visi yang tajam dan jelas bukan saja menjadi pendorong dan pemandu pergerakan kebangsaan di masa revolusi, akan tetapi visi itu sendiri lahir dari pegulatan para tokoh intelektual di kancah revolusi. Visi itu dituliskan di dalam berbagai naskah pidato, risalah rapat maupun dihimpun di dalam buku. Salah satu puncak kristalisasi dari visi pergerakan itu terumuskan di dalam UUD’45 dan Pancasila.

Jika kita mau merenungkan sebentar sejarah pergerakan kebangsaan Indonesia di masa revolusi, kita dapat menarik pelajaran, bahwa pergerakan itu tidak sekedar aktivitas yang menjurus kearah aktivisme, akan tetapi selalu merupakan dialektika antara kerja-kerja pengorganisasian di lapangan dan aksi-aksi perlawanan dengan pergulatan pemikiran. Itulah hakekat gerakan politik. Tanpa visi yang tajam, aktivitas di lapangan hanya tinggal menjadi aktivitas, dia bisa bergerak ke mana-mana, dari sekedar sarana untuk mencari pengakuan diri hingga menjadi kerja-kerja proyek.

Gerakan sosial yang dibangun tanpa visi hanya akan melahirkan para aktivis yang melayang-layang ke mana-mana, tetapi sebenarnya tidak ada di mana-mana, karena pada hakekatnya ia bergerak tidak untuk siapa-siapa, kecuali untuk dan bagi dirinya sendiri.

Dalam kerangka membangun gerakan sosial yang substantif, Pergerakan Kebangsaan, Pusham Surabaya dan dengan dukungan dari jaringan gerakan sosial di Jawa Timur, menggagas pertemuan “intersubyektivitas” para aktivis dengan kaum intelektual. Perpaduan antara kaum pergerakan dengan para intelektual ini terintegrasi di dalam buku Fenomenologi Politik : Membongkar Politik Menyelami Manusia. Memperkuat kembali dasar pemikiran gerakan sosial yang selama ini tercerabut dari akar ideologisnya, inilah tujuan pokok diadakannya seminar Fenomenologi Politik.

 Acara seminar bedah buku ini akan dilaksanakan pada :

Hari/tanggal :

Selasa, 30 April 2013

Waktu :

Jam 1o.00 s/d 13.00 WIB

Tempat :

Gedung C Fisip Unair Lt.3, Jl. Dharmawangsa Dalam Selatan Surabaya.

Pembicara :
  1. Drs. Ito Prajna-Nugroho (Penulis Buku)
  2. Drs. Sudaryanto (Komite Nasional Pergerakan Kebangsaan)
  3. DR. A. Setyo Wibowo (Penulis Buku dan Staf Pengajar STF Driyarkara)
Alamat Sekretariat :

Jl. Karang Menur 4/14 Surabaya

Panitia Bersama :

Seminar dan Launching Buku “Fenomenologi Politik: Membongkar Politik Menyelami Manusia

Contact Persons :
  • Rafael L. Haryoso (081 330 626 333)
  • Bambang Budiono (0812 31 11 570)

4 thoughts on “Seminar Bedah Buku

  1. Charles E. Tumbel mengatakan:

    Maaf, gratis atau ada biayanya ya? Terima kasih,

  2. phaenomenologische Kreis mengatakan:

    Untuk sekadar datang ke acara seminarnya sendiri gratis dan tidak berbayar, tetapi kalau bukunya sendiri tidak gratis. Demikian Sdr. Tumbel. Terima kasih dan salam sua..

  3. hadi baroto mengatakan:

    Cita2 saya Indonesia kuat di bidang pertanian, karena ini akan menjadi tulang punggung negara. Saya bergerak kecil2an di beberapa usaha pertanian. Saya melihat dept pertanian sudah dimasuki politik praktis, jadi tujuannya menguasai pertanian untuk tujuan politiknya. Repot deh. Jadi politik bukan untuk kemajuan bangsa, malah bidang2 yang potensial dikuasai untuk kepentingan politik praktis. Jadi kapan Indonesia akan kuat di bidang pertanian ???

  4. Masyarakat Tani Desa mengatakan:

    Untuk Sdr. Hadi Baroto: komentar yang menarik dan menggugah. Untuk Anda, juga siapa saja yang mau berpikir kritis dan mau berfenomenologi, mungkin cuplikan ini ada gunanya:

    AAA, Agricultural Adjustment Act

    Within days of his inauguration in 1933, President Roosevelt called Congress into special session and introduced a record 15 major pieces of legislation. One of the first to be introduced and enacted was the AAA, the Agricultural Adjustment Act.

    For the first time, Congress declared that is was “the policy of Congress” to balance supply and demand for farm commodities so that prices would support a decent purchasing power for farmers.

    Even critics admitted that the AAA and related laws helped revive hope in farm communities. Farmers were put on local committees and spoke their minds. Government checks began to flow. The AAA did not end the Depression and drought, but the legislation remained the basis for all farm programs in the following 70 years of the 20th Century.
    Full article at: http://www.livinghistoryfarm.org/farminginthe30s/water_11.html

    AS saja melindungi para petaninya! Indonesia???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s