Fenomenologi Politik: Membaca (Reading) – Mempertanyakan (Questioning – Memahami (Understanding)

Krisis Legitimasi Sistem Politik: Anatomi Keterasingan Manusia dari Politik

thumb1Maka baik dalam wilayah politik maupun ekonomi manusia mengalami depolitisasi dan dehumanisasi entah sebagai massa anonim yang tanpa karakter ataupun sebagai objek komoditas yang tanpa arah. Bersama dengan depolitisasi dan dehumanisasi itu manusia tidak mempunyai pilihan lain kecuali: 1) semakin tersudutkan ke dalam ruang privatnya masing-masing yang terpisah dari ruang publik, dan dengan itu semakin terasing dari keputusan-keputusan publik-politik (mengalami de-politisasi), atau 2) semakin terlempar ke luar ke mekanisme ruang publik (entah politik atau ekonomi) yang anonim di mana intensi-intensi subjektifnya tidaklah relevan, dan dengan itu semakin mengalami keterasingan dari dirinya sendiri (de-humanisasi). Apa yang semakin terkikis dari manusia bersamaan dengan depolitisasi dan dehumanisasi ini adalah dua hal yang sebetulnya telah selalu menjadi bagian dari diri manusia, yaitu: 1) kemampuannya untuk mengambil keputusan dan tanggung jawab, dan 2) kemampuannya untuk mengarahkan diri ke masa depan. Inilah sebabnya mengapa sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalistik selalu ditandai oleh satu ciri umum yang akan selalu menyertainya, yaitu: kerentanan terhadap krisis.

Menjadi jelas bahwa depolitisasi dan dehumanisasi adalah sebuah konsekuensi dari suatu sistem. Sebagai konsekuensi, keduanya tidaklah muncul karena demokrasi dan kapitalisme pada dirinya buruk dan rancu. Kerancuan itu muncul lebih sebagai akibat dari pemahaman, penafsiran, dan penerapan cara-pandang modern saintifik-positivistik atas sistem itu yang membuatnya rancu/salah-kaprah. Maka problemnya tidak terletak pada demokrasi ataupun kapitalisme itu sendiri, melainkan lebih pada cara bagaimana keduanya dipahami, ditafsirkan, dan dijalankan.

Dalam cara baca yang tidak jauh berbeda dengan Schmitt, Jürgen Habermas juga sampai pada kesimpulan yang kurang lebih serupa dengan analisis Schmitt. Dalam naskah kerja hasil penelitian yang dilakukan Habermas bersama dengan Max Planck Institut pada 1970 (Max Planck Institut zur Erforschung der Lebensbedingungen der wissenschaftlich-technischen Welt), ia sampai pada kesimpulan sebagai berikut: bahwa proses integrasi sistem tidak selalu berjalan bersamaan dengan proses integrasi sosial, bahkan integrasi sistem sering menafikkan pentingnya proses integrasi sosial. Artinya, suatu sistem (entah itu sistem nilai, sistem politik-ekonomi, dsb) yang berproses menjadi semakin otonom seringkali membuat masyarakat yang hidup di dalamnya menjadi semakin tergantung pada sistem itu dan membuat mereka justru semakin tidak otonom. Otonomi sistem ternyata justru sering berlawanan (kontradiktif) dengan otonomi sosial.

Salah satu sebab utamanya adalah karena sistem selalu cenderung untuk membuat subjek-subjek berdaulat di dalam sistem itu mengalami automatisasi dan anonimisasi. Inilah sebabnya jika terjadi interupsi, diferensiasi, dan distraksi terhadap sistem tersebut, maka identitas para manusia di dalamnya juga ikut terganggu dan terancam. Ancaman terhadap integrasi sistem (yang bersifat eksternal-struktural) yang secara langsung ikut mengancam integrasi sosial para manusia di dalamnya (yang bersifat internal-eksistensial), inilah yang disebut Habermas sebagai Krisis. Maka, jika mengikuti alur penelitian Habermas ini, krisis terjadi karena logika sistem telah begitu jauh meresap ke dalam diri masing-masing manusia yang membuatnya tidak lagi dapat berpikir dan bertindak di luar kerangka sistem tersebut. Dengan kata lain, tercipta ketergantungan yang tidak setara/imbang antara sistem dan manusia. Jika terjadi berbagai masalah menyangkut keberlangsungan sistem tersebut, manusia-manusia di dalamnya juga ikut terguncang karena tidak lagi dapat dipisahkan antara dirinya dengan sistem yang menaunginya (terjadi identifikasi). Maka terjadinya suatu krisis ekonomi (yang bekerja menurut logika sistem pasar) secara langsung juga mengakibatkan krisis sosial bahkan krisis personal.

Cukup menarik melihat bahwa Habermas mengatakan hal yang kurang lebih sama dengan Schmitt, yaitu bahwa cara-kerja sistem yang mekanis-anonim itu telah mendominasi dan merasuk sedemikian rupa ke dalam cara-berpikir manusia yang seharusnya berproses secara komunikatif-hermeneutis. Oleh karena itu setiap krisis sebetulnya merupakan krisis yang berkenaan dengan problem legitimasi atas cara kerja suatu sistem. Mesin tidak dapat dan tidak perlu melegitimasi dirinya. Problem legitimasi adalah problem yang khas manusia dan hanya bisa terjadi pada manusia. Sebabnya tidak lain karena tanggung jawab dan apropriasi (menjadikan sesuatu sebagai milik atau bagian dari diri kita) hanya dapat muncul dari manusia sebagai subjek yang memiliki kesadaran. Ketidakmampuan manusia untuk menanggapi/merespon (to respond/being responsible) berbagai problem legitimasi yang muncul dari suatu krisis menunjukkan bagaimana manusia sebagai subjek yang sadar itu telah mengalami depolitisasi dan dehumanisasi yang sedemikian parah. Pengandaian inilah yang berdiri di balik analisis Habermas saat ia menyebut sistem politik-ekonomi modern yang kapitalistik itu sebagai “suatu proses pertumbuhan yang akan selalu ditunggangi oleh krisis.” (a crisis-ridden course of economic growth)

Dalam perspektif fenomenologi Husserlian-Schmittian, analisis tentang krisis legitimasi, depolitisasi, dan dehumanisasi tidak tinggal begitu saja sebagai perspektif teoretis. Sebaliknya, analisis itu sendiri muncul sebagai sebuah bentuk ekspresi dari apa yang senyatanya terjadi dalam dunia-kehidupan konkret manusia-manusia politik modern. Dari perspektif fenomenologi Husserlian-Schmittian, analisis mengenai krisis ini semakin menegaskan kembali dimensi terdalam tetapi juga tergelap dari diri dan hidup manusia, yaitu: dimensinya yang tanpa-dasar (Grundlos / Groundless). Dari situasi ontologis-eksistensial yang tanpa-dasar inilah manusia mulai membangun sistem (apapun) untuk melangsungkan hidup dan merawat dirinya. Maka setiap sistem, apapun itu, akan selalu memuat kemungkinan untuk kembali terjatuh ke dalam situasi yang tanpa-dasar. Apa yang menjadi awal (alfa) dari segala sesuatu dapat pula menjadi akhir dari segalanya itu (omega).

Untuk manusia sebagai pribadi, situasi tanpa-dasar itu akan selalu mungkin dialaminya melalui pengalaman-pengalaman kejatuhan eksistensial yang membuat seluruh normalitas hidupnya bergeser ke dalam ab-normalitas, seluruh kewarasan bergerak ke arah kegilaan, seluruh kenyamanan-diri bergeser menjadi pertanyaan/pergulatan-diri. Manusia seringkali mengalami kejatuhan eksistensial ini dalam pengalaman-pengalaman otentik yang seringkali juga traumatis, seperti misalnya dalam situasi perang, konflik batin, situasi-situasi kritis, dll. Untuk dunia politik, situasi tanpa-dasar yang selalu mengintai di ambang batas segala tatanan sosial-politik adalah keadaan total chaos dan total disorder. Chaos dan ambruknya tatanan (disorder) menjadi extremus necessitatis casus (kasus-kasus ekstrem yang niscaya) yang justru menentukan karater otentik dari setiap aktivitas politik. Bagi Schmitt, normalitas tidaklah muncul dari normalitas itu sendiri layaknya tautologi yang tidak bermakna. Seluruh normalitas dibangun di atas dasar ab-normalitas, sebagaimana semua pendasaran (tatanan) dibangun di atas situasi tanpa-dasar (tanpa-tatanan).

Dengan menyingkapkan situasi ab-normal/tanpa-dasar dari seluruh sistem, Schmitt memperlihatkan bahwa politik, sebagaimana hidup manusia sendiri, tidak akan pernah dapat dilepaskan dari satu senyawanya yang paling penting, yaitu: Kedaulatan. Hanya manusia yang sadar sajalah yang mampu menegaskan dirinya di atas segala pengecualian, menegaskan dirinya di atas segala ab-normalitas dan ketanpa-dasaran. Inilah sebab mengapa hanya manusia saja satu-satunya makhluk yang dapat disebut sebagai subjek-berdaulat yang mampu mewujudkan kedaulatannya. Kedaulatan itu sendiri bukanlah sebuah ruang kosong nihilistik, melainkan selalu memuat tiga dimensi dasarnya: 1) keputusan, 2) tanggung jawab, 3) keterjangkaran pada tradisi (historisitas) dan keterarahan ke arah masa depan (temporalitas). Ketiganya merupakan faktor dasar yang mendefinisikan karakter setiap orang dalam kekhasannya masing-masing, sebagaimana ketiganya juga mendefinisikan karakter kolektivitas setiap bangsa dalam kekhasannya masing-masing. Dimensi kedaulatan inilah yang kemudian terjinakkan bersama dengan semakin meluasnya pengaruh ilmu-ilmu modern yang saintifik-naturalistik-positivistik ke dalam wilayah politik. Proses penjinakkan manusia (depolitisasi dan dehumanisasi) menjadi makhluk-makhluk yang pasif, konsumtif, dan a-politis melalui sistem politik-ekonomi modern inilah yang menyebabkan mengapa manusia-manusia modern lebih rentan terhadap krisis: sejak awal ia telah terasing dari historisitasnya, terasing dari temporalitasnya, asing dari pengertian tanggung jawab, dan asing dengan dimensi eksistensial keputusan.

(Dikutip dari: Ito Prajna-Nugroho, Fenomenologi Politik – Membongkar Politik Menyelami Manusia, Purworejo: Penerbit Sanggar Pembasisan Pancasila, 2013, Bab IV)

2 thoughts on “Fenomenologi Politik: Membaca (Reading) – Mempertanyakan (Questioning – Memahami (Understanding)

  1. the Socialist Strategy mengatakan:

    I’m not very good in indonesian bahasa, but I can understand, and I find this quotation from your book very interesting. Somehow it reactivates my long past reading of Ernesto Laclau&Chantal Mouffe book: “Hegemony and Socialist Strategy”. Though it’s different in focus and content. Good work guys..

    “Laclau relates the difference between the social and the political to Edmund Husserl’s distinction between sedimentation and reactivation. Laclau’s theory has to be located at the antagonistic end of the scale of social post-foundationalism.”
    Read at: http://www.amazon.com/Hegemony-Socialist-Strategy-Democratic-Politics/dp/1859843301

  2. epekeina mengatakan:

    “Mr Writer..you tell it as it really is” (‘Enough education to Perform’, STEREOPHONICS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s