Menjadi Mawas-Diri bersama Husserl dan Fenomenologi

Perihal Prinsip-prinsip Dasar Meditasi Fenomenologis dan Mawas-Diri sebagai Strategi

Ito4Pengantar: Ciri Revolusioner Fenomenologi

Quentin Lauer, seorang Jesuit sekaligus juga pakar yang disegani dalam bidang fenomenologi, menyebut filsafat Husserl (fenomenologi) sebagai filsafat yang revolusioner. Apa yang revolusioner dari fenomenologi Husserl bukanlah kemampuannya untuk meletuskan revolusi sosial besar-besaran, bukan pula kebaruan gagasan ataupun ide-ide revolusioner yang dibawanya. Dalam rumusan Quentin Lauer, fenomenologi Husserl adalah filsafat yang revolusioner sebab fenomenologi mampu menerangi secara baru persoalan-persoalan dasar yang sebenarnya tidaklah baru. Artinya, ciri revolusioner fenomenologi terletak pada kemampuannya untuk mempertanyakan apa yang tidak lagi dipertanyakan, melihat apa yang tidak lagi terlihat, mengangkat ke permukaan berbagai persoalan dasar yang telah terlupakan, menyingkapkan pengandaian-pengandaian dasar yang telah mengendap terpendam tidak lagi dipertanyakan dan diterima begitu saja. Fenomenologi Husserl disebut revolusioner bukan karena apa yang diajukan/dibawanya, melainkan lebih karena cara bagaimana fenomenologi (sebagai metode) melihat/memahami berbagai persoalan dasar seputar realitas dan manusia yang sebenarnya telah muncul sejak zaman purba.

Satu persoalan dasar dan purba yang kembali dihidupkan atau dipertanyakan oleh fenomenologi adalah persoalan mengenai kesadaran. Fenomenologi disebut sebagai revolusioner karena cara bagaimana kesadaran dipersoalkan kembali dan kemudian dilihat/dipahami melalui suatu cara yang baru. Mengikuti alur pemahaman Quentin Lauer, dapatlah dikatakan bahwa fenomenologi adalah suatu kajian mengenai kesadaran dalam segala keluasan dan kedalamannya. Sebagai suatu kajian mengenai kesadaran, fenomenologi mempersoalkan kesadaran dalam artinya yang paling mendasar (fundamental) sekaligus juga paling menyeluruh (universal), yaitu kesadaran kita akan kesadaran itu sendiri. Kesadaran akan kesadaran, inilah yang disebut sebagai kesadaran-diri. Kesadaran disebut sebagai kesadaran-diri karena merupakan sebuah laku masuk ke dalam internalitas batin diri, memeriksa kesadaran itu sendiri sebagai suatu kegiatan primordial (intropseksi), dan dari kedalaman itu semakin memperoleh keluasan pemahaman akan realitas. Dalam bahasa Indonesia sastrawi, laku masuk ke kedalaman kesadaran-diri ini dikenal juga dengan sebutan mawas diri.

Dalam perspektif fenomenologi, kesadaran kita akan dunia, kesadaran kita akan orang lain, kesadaran kita akan politik, termasuk juga kesadaran kita akan ketidaksadaran, semua itu terlebih dahulu mengandaikan satu hal niscaya, yaitu: kesadaran-diri. Kesadaran-diri, dalam fenomenologi Husserl, adalah pengandaian dasar yang tidak bisa tidak diandaikan sebelum muncul-berkembangnya segala bentuk kesadaran lain. Kesadaran-diri yang mendasar sekaligus menyeluruh inilah yang justru tidak pernah dipertanyakan lagi baik secara teoretis (dalam filsafat dan ilmu pengetahuan) maupun secara praktis (dalam hidup sehari-hari). Fenomenologi disebut sebagai revolusioner karena sebagai metode fenomenologi berani mempertanyakan kembali, membongkar kembali, menghidupkan kembali (reaktivasi) sesuatu yang telah mengendap (sedimentasi) dalam ketidaksadaran dan diterima begitu saja sebagai sesuatu yang umum/wajar.

Dikutip dari: Ito Prajna-Nugroho, Menjadi Mawas-Diri bersama Husserl dan Fenomenologi (Naskah Studi yang Tidak/Belum diterbitkan, 2013).

2 thoughts on “Menjadi Mawas-Diri bersama Husserl dan Fenomenologi

  1. Kristiawan mengatakan:

    naskah studinya kapan bisa diupload ?

    • FENOPOL mengatakan:

      Naskah studinya memang hanya akan di upload sebagian saja Mas Kristiawan. Jika berjalan sesuai rencana, naskah ini akan terbit (dijual) sebagai buku saku kecil tidak lebih dari 60 halaman saja. Mungkin sekitar akhir Mei ini sudah bisa dibaca naskah utuhnya dalam bentuk buku. Semoga… Salam (FENOPOL)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s