Daya Cipta dari Daratan yang Membentang: Mengapa Kami Menetap di Dusun?

Martin Heidegger

ItoDi ketinggian sekitar 1.150 meter di atas permukaan laut, di wilayah selatan pegunungan Black Forest (Schwarzwald), di tengah lembah pegunungan yang luas membentang, di sana di salah satu lereng curam itu berdirilah sebuah pondok kecil. Luas lantainya berukuran sekitar enam kali tujuh meter persegi. Atapnya yang menggantung rendah meliputi tiga ruang: dapur yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga, sebuah kamar tidur, dan sebuah ruang studi. Di sisi lereng yang berlawanan menyebarlah rumah para petani dan penggembala dengan atap-atapnya yang menggantung tinggi, memencar berjauhan di sepanjang lereng hingga ke dasar lembah. Di atas lereng tersebut, lebih tinggi dari padang rumput tempat menggembala, di situ terdapatlah hutan pinus dengan batangnya yang menghitam, menua, dan menjulang tinggi. Di atas semuanya itu membentanglah langit biru yang cerah dan dalam naungan cakrawalanya dua elang liar terbang melayang berputar-putar. (Naskah lengkap dalam format PDF dapat diklik pada gambar)

2 thoughts on “Daya Cipta dari Daratan yang Membentang: Mengapa Kami Menetap di Dusun?

  1. Pipit mengatakan:

    Memang renungan yang masih aktual dengan keadaan sekarang ini ya. Ingin tahu pendapat Mas Ito, setujukah kalau ‘keheningan’ terkadang baru bisa tercapai setelah kita merasa ‘kesepian’? Dan kesepiannya itu harus berlarut-larut dulu.

    Salam,
    Pipit

  2. FENOPOL ZIRKEL mengatakan:

    Mbak Pipit yang baik, terima kasih untuk komentar dan pertanyaannya. Pertanyaan yang menarik, dan tidak mudah dijawab. Karena fokus saduran di atas adalah Martin Heidegger, maka kalau bertolak dari fenomenologi Heidegger ‘keheningan’ tidak harus berasal dari ‘kesepian’. Artinya, keheningan bisa dicapai tanpa harus terlebih dulu merasa kesepian. Orang yang ‘kesepian’ juga belum tentu bisa sampai pada keheningan. Jadi keduanya tidak mengandaikan satu sama lain.

    Perbedaan sederhananya mungkin begini: ‘kesepian’ adalah sebuah keadaan mental-psikologis di mana seseorang terkungkung di dalam dirinya sendiri, dan ini semua bertolak dari satu faktum dasar manusia, yaitu suasana batinnya (disebut Heidegger sbg “STIMMUNG”). Sementara ‘keheningan’ adalah sebuah keadaan ontologis-fundamental tentang relasi mendasar antara manusia dan dunia. Dalam ‘keheningan’ seseorang justru ditarik keluar dari ‘ego’ dirinya sendiri, keluar menuju kepada ‘Yang Lain’, dan menjadi terbuka terhadap segala sesuatu. Keadaan inilah yang disebut dengan ‘ketersingkapan’ (Erschlosssenheit). Jadi, jika ‘kesepian’ adalah suatu bentuk keadaan mental-psikis, maka ‘keheningan’ adalah suatu bentuk keadaan ontologis non-psikis. Mudah-mudahan tanggapan yang sudah terlalu panjang ini bisa membantu menjawab. Terima kasih juga untuk link web nya: SKETSA.

    Salam dari kami
    FENOPOL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s