Axis Mundi

AvatarPada satu saat, ketika musim kemarau dan air di waduk Kedungombo, Jawa Tengah, turun pada tingkat paling rendah, seorang duduk termangu memandang tanggul dan nisan-nisan yang muncul ke permukaan. Dia sengaja datang ke waduk untuk menatap nisan-nisan itu, seakan sedang bicara dan terasa dekat dengan dunia atas di mana kerabat dekat sekarang tinggal. Ketika musim hujan dan air waduk naik, kuburan dan desanya kembali tergenang, nisan-nisan itu ikut lenyap dari pandangan. Tak mungkin lagi dilihat, apalagi didekati untuk tabur bunga. Hanya manusia mengenal nisan, memandanginya, merawat dan menabur bunga. Binatang tidak. Hanya manusia yang mempunyai keinginan menembus batas untuk ‘berdamai’ dengan yang di luar batas, binatang tidak.

Di luar batas sana adalah chaos, hal di luar kemampuan manusia. Tidak hanya sekedar chaos, tetapi bisa memakan manusia. Menghantam layaknya meteor jatuh dan membinasakan. Maka banyak upaya manusia untuk bisa ‘berkomunikasi’ dengan yang di luar batas itu. Untuk itu dibuatlah tugu-tugu yang menjulang tinggi, atau pun kemudian mendekatkan diri dengan pohon-pohon raksasa yang ada di tengah-tengahnya. Inilah perantara antara dunianya manusia dan dunia sana. Dunia manusia di mana manusia bisa mengatur atau paling tidak memahami, dan dunia sana yang serba tak teratur. Antara kosmos dan chaos.

Ketika hidup manusia masih tergantung pada pertanian, ataupun berburu, hal tidak pasti sangatlah besar. Hujan lebat, banjir, badai dan ancaman binatang buas, adalah berbagai bentuk dari ketidak pastian itu. Sesuatu di mana manusia tidak mampu mengaturnya. Untuk itu maka manusia berupaya untuk dapat berkomunikasi dengan penguasa-penguasa dunia ketidak pastian ini, yang ada di luar sana, di luar batas. Seperti sudah di sebut di atas, jadilah berbagai bangunan atau tempat-tempat sakral di mana diyakini itu adalah tempat untuk berkomunikasi dengan penguasa ketidak pastian. Tidak hanya itu, hidup bersama pun kemudian seakan berjalan di sekitar dan sejalan dengan tempat-tempat ‘sakral’ itu. Itulah axis mundi, pilar yang tidak hanya menghubungkan dunia manusia dan dunia sana, tetapi juga sebagai pusat di mana hidup bersama harus memandangnya.

Pemimpin suku, atau bahkan raja-raja kemudian dimaknai juga sebagai pemegang kunci tempat-tempat sakral itu. Bisa saja kemudian ada satu-dua orang sebagai ‘pendeta’ atau apalah namanya, tetapi raja dan pemimpin suku tetap tidak tergantikan. Seorang bisa saja sebagai pemegang manuskrip tentang tata-cara upacara, dan memimpin upacaranya, tetapi tetap pemimpin suku atau rajalah penentunya. Maka hubungan antara raja dan rakyatnya, semestinyalah sebuah hubungan harmoni. Rakyat membutuhkan perlindungan dari ketidak pastian, pemimpin memberikan kepastian bahwa ketidak pastian bisa di’negosiasi’kan. Lewat dia.

Pada era manuskrip ini, rakyat kebanyakan tidak akan pernah bisa ikut terlibat aktif memaknai upacara dengan jarak yang sangat ‘dekat’. Dia terlibat dari ‘jauh’, dan terlibat melalui manuskrip yang dibacakan. Dengan itu jugalah kebersamaan dalam upacara terjaga, paling tidak jika kita ingat pendapat dari Walter J. Ong SJ., sound itu mempersatukan.

Keadaan mulai bergeser ketika era manuskrip berakhir dengan ditemukannya mesin cetak (massal) oleh Guttenberg. Berjuta buku dicetak dalam kurun waktu seratus tahun. Dan berjuta orang tidak lagi mengandalkan sound, tetapi penglihatannya sendiri-sendiri. Bagi Ong, melihat itu memecah belah. Ketika masing-masing orang dibagikan bahan bacaan yang dulu ketika era manuskrip hanya dipegang oleh pemimpin upacara, maka setiap orang pun dapat mengembangkan fantasinya masing-masing. Tidak ada tafsir tunggal lagi, masing-masing kemudian berhak mengembangkan tafsirnya sendiri-sendiri.

Dengan semakin banyak terjemahan pemikir-pemikir Yunani Kuno yang dicetak, maka mulailah era baru, yaitu era di mana manusia sebagai pusat. Paling tidak ini terjadi di Eropa Barat waktu itu, sekitar tahun 1.500 – 1.600. Maka perlahan kemudian kemapanan raja sebagai pemberi kepastian terhadap ketidak pastian pun semakin tergoncang. Apalagi berbagai rahasia ketidak pastian itu semakin banyak dipahami manusia melalui perkembangan ilmu pengetahuan. Industri berkembang, dan seterusnya.

Apakah ketika terjadi pergeseran kepada manusia, dan yang di luar batas, berdasarkan klaim ilmu pengetahuan, sudah berhasil ‘dijinakkan’, ketidak pastian kemudian dapat ditundukkan? Dan dengan itu pun runtuhlah apa yang dikenal sebagai axis mundi itu?

Ternyata, ketika pusat bergeser ke manusia, ketidak pastian itu pun ikut-ikutan bergeser. Sumber ketidak pastian sekarang bukan ‘yang di luar batas’, tetapi adalah manausia itu sendiri. Manusia dengan segala misteri hasratnya. Dalam diri manusia ternyata bersemayam hal ‘di luar batas’ itu. Hal ‘di luar batas’ yang penuh ketidak pastian dan mengancam hidup bersama. Thomas Hobbes yang menulis Leviathan di tahun 1651 kiranya dengan jelas menunjukkan hal ini, terlebih pada bagian pertama, Of Man. Terhadap pergeseran ini, tidaklah berlebihan jika Y.B. Mangunwijaya menuliskan:

“Kerajaan adalah ekspresi sekaligus infrastruktur yang timbul selaku “keharusan perkara” (Sachzwang) dari budaya agraris, sedangkan republik atau kerajaan konstitusional yang kini merupakan bentuk dominan memang adalah ekspresi sekaligus infrastruktur dari budaya industri dengan sistem perdagangan yang khas. [1]

Munculnya negara bangsa (nation-state) pun dapat dilihat dalam konteks ini. Ketika ketidakpastian semakin menggembung dalam hidup bersama, dan raja beserta kerajaannya sudah ‘tidak kompatibel’ lagi dengan perkembangan ketidak pastian ini, negara yang bisa diurus bersama (res-publica) pun menjadi pilihan. Manuskrip kemudian diganti dengan konstitusi, dan ini dapat dibaca oleh semua warga negara. Atau bahkan mengusulkan dan menggantikannya sesuai dengan kesepakatan bersama. Tetapi apakah kemudian dapat dikatakan bahwa konstitusilah sekarang yang bisa disebut sebagai axis mundi bersama? Bagi Laski, negara hanya bisa digapai oleh warga negara (hanya) melalui tindakan-tindakan pemerintahnya. Persis pada titik inilah kita bisa memaknai bagaimana Obama bersikap ketika penolakan pendirian Islamic Centre di Ground Zero beberapa waktu lalu semakin menggelembung. Obama mengingatkan akan cita-cita awal berdirinya AS, dan dengan itu segera gelombang penolakan pun meredup.

Selain itu, ketidak pastian bisa juga berasal dari manusia-manusia di luar nation-state. Maka, tidak hanya membangun ‘kepastian’ dalam negeri saja, tetapi pemerintah yang terdiri dari manusia-manusia konkret itu juga diharapkan mampu membangun komunikasi dengan ‘yang di luar batas’ itu, sekaligus juga melindungi supaya ‘yang di luar batas’ itu tidak menghancurkan hidup bersama. Di sinilah dapat kita lihat bagaimana para founding fathers kita secara cerdas menulis dalam Pembukaan UUD 1945, Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, sekaligus juga untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia. Manusia-manusia konkret yang mendapat mandat mengelola negara itulah yang sebenarnya diharapkan mampu sebagai axis mundi dalam hidup bersama sebagai satu bangsa di era republik ini. Bahwa dalam melaksanakan pengelolaan itu dia tidak boleh menyimpang dari ‘manuskrip’ undang-undang adalah jelas, tetapi adanya dia sebagai manusia jelas tidak tergantikan oleh undang-undang.

Karena dalam diri manusia bersemayam misteri hasrat, bersemayam hal ‘di luar batas’, maka adanya manusia sebagai axis mundi itu juga mengandung banyak resiko. Resiko paling ekstrem dalam dunia modern paling tidak bisa kita lihat dalam era Hitler. Meski begitu, kita juga tidak boleh melupakan bagaimana manusia sebagai axis mundi juga bisa membangun hidup bersama menjadi lebih bermartabat. Nelson Mandela salah satunya. Putusan manusiawinya untuk mengambil jalan rekonsiliasi pasca runtuhnya rejim apartheid telah memberikan dasar kokoh bagi bangsa Afrika Selatan. Dan berdasar putusan manusiawi dari manusia yang disebut sebagai Nelson Mandela itu kemudian dibuat berbagai undang-undang, sistem dan lain-lain yang mengatur kehidupan bersama selanjutnya di Afrika Selatan.

Selama Reformasi berjalan lima belas tahun ini, apa yang kita harapkan sebagai axis mundi ini terasa semakin kabur. Coba kita lihat, berapa saja wakil bupati/wakil walikota, wakil gubernur, atau bahkan wakil presiden pada pemilu selanjutnya kemudian berdiri sebagai penantang bagi yang diwakilinya selama lima tahun? Kalau perlu loncat partai! Bagaimana mau jadi axis mundi jika ketidak pastian lebih kuat bersemayam dalam diri mereka? Belum lagi ratusan kepala daerah jadi tersangka kasus korupsi! Ratusan, dan lebih dari separuh jumlah kepala daerah di Indonesia! Satu rekor dunia yang tidak pernah tercatat. Belum lagi misalnya, bagaimana seorang Julia Perez yang oleh media massa dibesar-besarkan karena dia berencana mencalonkan diri sebagai bupati. Bukankah menjadi axis mundi itu tidak main-main?

Ataukah sekarang ini sedang ada pergeseran bahwa yang disebut sebagai axis mundi itu adalah hukum atau mekanisme pasar? Dan karena itu negara yang kompatibel adalah minimal-state? Dan pengelola negara yang baik adalah yang tidur di siang hari dan berjaga di malam hari? Kalau memang begitu, mengapa banyak buku yang menulis soal Deng Xiao Ping? Dan banyak analisa soal pengganti-penggantinya? Dan mengapa Obama terpilih lagi menjadi presiden AS? Juga Putin di Rusia.

Satu hal yang bisa kita pelajari dari film Avatar besutan sutradara James Cameron, jika mau menghancurkan satu bangsa, mengapa tidak mulai dengan menghancurkan apa yang menjadi axis mundi-nya? Ini kiranya yang sering kita lupakan. ***(Greg, 5/6/2013)


[1] Y.B. Mangunwijaya, Memasuki Era Globalisasi, dalam Pasca-Indonesia Pasca-Einstein, kumpulan Esei-Esei tentang Kebudayaan Indonesia Abad ke-21, Kanisius,1999

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s