Resiko dan Peradaban

makan“Apakah ibu-ibu sudah tahu bahwa ibu hamil harus makan makanan bergizi?” → “Sudaaah”.  “Bagus …, tadi pagi sarapan apa ibu-ibu?”  “Indomie ….”

Dialog tersebut adalah contoh apa yang terjadi dalam sebuah petemuan motivasi. Artinya, ibu-ibu yang hadir sudah paham tentang materi – dalam hal ini pentingnya asupan gizi pada ibu hamil – dan pertemuan itu ditujukan tidak lebih untuk memotivasi saja. Tetapi, meski pengetahuan akan makan bergizi sudah ada dalam benak sebagai pengetahuan, mengapa kebiasaan Ibu-ibu itu tidak juga serta merta berubah menjadi lebih sehat terjaga? Padahal yang hadir pada pertemuan itu, dari data pelayanan kesehatan terdekat, sebenarnya mereka termasuk masyarakat yang mampu menyediakan makanan bergizi. Jadi, mereka itu bukannya tidak mampu.

Banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari yang dapat menggambarkan hal tak jauh berbeda seperti tergambar di atas. Bagai kita tahu bahwa di pohon beringin itu tidak ada hantunya, tetapi toh banyak dari kita kalau mungkin mengambil jalan melingkar. Ada apa di balik ini?

Jika pada moment tertentu suatu perbuatan atau tindakan dilakukan dengan mulai mengambil sebuah keputusan, ada apa dibalik itu? Risiko, kelihatannya inilah faktor utama dalam hal ini. Risiko, jika dilihat lebih dalam sebenarnya bersemayam baik di alam sadar maupun di bawah sadar. Minimal ini bisa kita lihat dari bagaimana menghindari ketidak-enakan, kesakitan dan sejenisnya, semuanya merupakan hal pertama dari cara manusia bertahan hidup. Maka ‘tidak mau mengambil resiko’ pada dasarnya adalah kecenderungan alamiah yang sangat manusiawi, dan tidak ada yang salah dengan itu. Mengapa? Karena, sekali lagi, itu bagian dari dari bagaimana manusia mempertahankan hidupnya (self-preservation). Bahkan tidak hanya mempertahankan hidup, menghindari ketidak-enakan itu pun juga berkembang menjadi aliran etika besar yang disebut dengan hedonisme dan utilitarianisme. Kedua aliran etika itu, di pengandaian dasarnya, sebetulnya setali tiga uang.

Tetapi apakah manusia hidup selamanya ‘tidak mau mengambil risiko’ demi menghindari ketidak-nyamanan yang ada di depannya? Tentu tidak. Cobalah kita bayangkan adanya risiko kelaparan dan di hadapan risiko itu seseorang justru memutuskan untuk menunda makan? Bukankah itu kita hadapi saat kita berpuasa? Maka jelas manusia sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menunda ‘ketidak-mauan mengambil risiko’ ini. Atau sebenarnya: ‘ketidak-mauan mengambil risiko’ ini sesungguhnya tidak pernah hilang, tetapi dikalahkan oleh imbalan ganjaran lebih besar yang ada di depannya? Atau mungkin juga: risiko itu diambil-alih, disubstitusi, dan ditanggung oleh orang lain? Sehingga dia melakukan ini atau itu bukan karena pertama-tama mau mengambil risiko, tetapi karena ia tahu risiko itu telah diambil alih oleh orang lain. Jadi pada dasarnya ia tetap tidak mau mengambil risiko.

Bagi Arnold J. Toynbee, peradaban berkembang karena ada tantangan dan respon. Apa dibalik tantangan itu? Bisa saja sebuah ketidak-pastian. Dan di belakang ketidak-pastian itu pastilah ada ketidak-nyamanan. Dari sini nampak samar-samar hubungan antara risiko dan peradaban. Paling tidak untuk sementara dapat kita katakan bahwa peradaban berkembang karena manusia berani menghadapi tantangan, dan ini berarti juga: berani menghadapi risiko. Bukan sekedar respon terhadap adanya tantangan, tetapi respon yang berani mengambil resiko.

Melanjutkan pendapat Toynbee, antara tantangan dan respon ada peran yang disebutnya sebagai minoritas kreatif. Satu hal yang jika kita tidak hati-hati ini kita memaknainya dengan berhenti pada masalah kreativitas saja. Jika kita lihat beberapa hal di atas, kiranya kreativitas barulah merupakan kondisi yang mencukupi. Necessary condition dari kreativitas tidak lain adalah kemauan untuk mengambil risiko, kemampua untuk bergerak keluar melintasi serta menyeberangi ‘batas’ eksistensinya. Pada titik inilah yang minor dalam minoritas kreatif itu sebenarnya lebih mendapatkan maknanya. Dia mengambil alih risiko yang semestinya ada dalam hidup di setiap orang, dan berani memikulnya sendiri atau dengan sedikit teman-temannya. Ketika terjadi mimesis atau peniruan dari orang kebanyakan terhadap jalan yang ditunjuknya, itu karena orang kebanyakan telah ‘dibebaskan’ dari risiko yang dihadapinya. Mereka paham dan percaya, pemimpin mereka tidak akan pernah lari. Mereka percaya pemimpin mereka yang minoritas jika dibandingkan dengan jumlah mereka, akan berani mengambil risiko, risiko yang semestinya mereka juga ikut menanggungnya.

Maka peradaban akan berkembang jika paling tidak ada tiga hal, pertama, ada pemimpin yang mau mengambil risiko, kedua, ada kepercayaan antara yang dipimpin dan yang memimpin, dan ketiga, adanya kreativitas. Dalam hal ini kita harus hati-hati memaknai term pemimpin ini. Pemimpin di sini perlu dipahami dalam arti luas. Beethoven, Picasso, dan juga Husserl misalnya, adalah orang-orang yang berani mengambil risiko, kreatif, dan mampu serta mau bergerak menyeberangi ‘batas’ normalitas yang dianut pada zamannya. Banyak orang kemudian begitu percaya untuk ‘menitipkan’ rasa keindahan mereka dalam karya-karya para pelopor ini.

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah kemudian di luar yang minoritas itu tidak ada peran sama sekali terhadap peradaban? Pertanyaan lain bisa juga kita ajukan, apakah mereka-mereka yang disebut sebagai punya kemampuan sebagai minoritas kreatif itu, jika hidup sebagai komunitas kecil atau bahkan sendirian, juga akan membangun peradaban? Apakah seorang Beethoven akan membangun keindahan ketika ia hidup sendiri di tengah hutan? Kita tidak pernah tahu itu, tetapi mungkinkah ini semua semacam ikan yang dibetot keluar dari air? *** Greg (11/06/2013)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s