Mencari Politik

ItoHenry Simons, seorang pemikir yang bersama Friedrich Hayek, Milton Friedman, dan Aaron Director menjadi  tokoh yang memelopori kelompok think-tank MPS (The Mont Pelerin Society), menulis dalam bukunya sebagai berikut:

Democracy, as viewed by libertarians, also implies, at best, a continuing process of relevant discussions and inquiry among professional truth-seekers or academic problem-solvers, who, though scrupulously detached from active politics and from factional affiliations, subtly and unobtrusively guide or arbitrate political debate by their own discussions.”[1] [cetak tebal dan garis bawah ditambahkan]

Dari sejarah kita mengetahui bahwa the Mont Pelerin Society menjadi kelompok pemikir yang menetapkan dasar bagi berdirinya Chicago School of Economics (terkenal dengan julukan ‘Chicago Boys’) serta menggerakkan dan menyebarkan secara global prinsip-prinsip ekonomi-politik yang disebut dengan neo-liberalisme. Dari sejarah kita juga mengetahui bahwa Henry Simons, pemikir yang kami kutip di atas, pada akhirnya secara tragis bunuh diri di Chicago pada 19 Juni 1946.[2]

Jika kita baca dan cermati baik-baik kutipan di atas, kita dapat menangkap penggambaran (model) ideal tertentu atas politik dan demokrasi yang bermukim di balik pernyataan tersebut. Penggambaran (model) ideal tersebut tidak lain adalah ruang publik politik yang netral dan tidak berpihak (“scrupulously detached from active politics and from factional affiliations”), menjadi milik semua secara setara, dan sistemnya bekerja secara alamiah dan ilmiah (“inquiry among professional truth-seekers and academic problem-solvers”). Penggambaran (model) ideal tersebut mewujud tentunya di dalam sistem demokrasi liberal sebagaimana kita pahami saat ini. Sebagaimana setiap penggambaran (model) ideal, pada akhirnya model itu menjadi basis bagi lahirnya suatu ideologi yang tidak lagi ideal, melainkan terbadankan di dalam sistem yang konkret, riil, dan aktual. Saat terbadankan ke dalam sistem yang riil dan aktual itulah setiap ideologi tidak lagi dapat netral dan sempurna, melainkan ia lahir dengan penuh cacat borok di sana-sini, dan mau tidak mau terendam di dalam kubangan hasrat kepentingan yang tidak pernah netral. Pengandaian normatif ideal yang pada awalnya ditetapkan dengan penuh niat mulia, pada akhirnya justru dapat menghasilkan dampak yang sama sekali berlawanan. Mungkin inilah takdir bagi setiap ideologi di kolong langit.

Tetapi apapun itu, setiap tatanan niscaya dimulai, dipelopori, dan dibangun oleh sedikit orang yang dianggap serta didaku memiliki kelebihan atau keahlian tertentu yang dapat memengaruhi (berguna bagi) cara berpikir masing-masing orang yang hidup dan mati di dalam tatanan tersebut. Sebagaimana dikatakan oleh Henry Simons: “professional truth-seekers or academic problem-solvers, who […] subtly and unobtrusively guide or arbitrate political debate by their own discussions.” Pernyataan ini mengandung kebenaran. Bukankah apa yang terungkapkan dari buku yang ditulis pada 1948 ini menjadi batu penjuru bagi semua bentuk teknokrasi dalam tatanan demokrasi dan ekonomi pasar bebas pasca Perang Dunia II? Di masa-masa peralihan setelah berakhirnya Perang Dunia II, sedikit orang yang memiliki gagasan, cita-cita, serta kepentingan yang sama ini kemudian mengelompokkan diri di dalam kelompok kecil, bahkan sangat kecil, yang disebut dengan MPS itu. Orang-orang inilah yang kemudian merebut momen di masa-masa peralihan, mengambil risiko yang tidak enteng, dan menetapkan dasar bagi suatu bentuk sistem ekonomi-politik yang saat ini menggurita secara global. Mereka mungkin saja menjadi sasaran kritik atau bahkan kutukan dari sana-sini (mungkin termasuk kita dan saya) di masa kini. Tetapi bukankah mengagumkan melihat bagaimana sebuah kelompok kecil yang awalnya tidak pernah diperhitungkan, ternyata justru mampu menyandera seluruh dunia di dalam goresan-goresan sketsa pemikiran mereka? Di luar segala dampak yang mereka hasilkan, saya menganggapnya sangat mengagumkan.

Namun demikian, terlepas dari segala kekaguman ini, kutipan di atas bukannya tanpa persoalan. Apa yang dikatakan oleh Henry Simons dan kawan-kawannya itu memuat di dalamnya pengandaian dasar yang tertentu, pengandaian dasar yang di dalam buku Fenomenologi Politik mungkin disebut sebagai problem naturalisme dan problem netralitas (sekali lagi ini kemungkinan, sebab penafsiran saya atas tulisan Ito Prajna-Nugroho itu dapat saja keliru).[3] Di tengah hiruk-pikuk perdebatan ideologi ketika itu, para pemikir MPS mencoba kembali ke pengandaian yang paling dasar dari semua manusia saja, yaitu fakta bahwa secara alamiah setiap orang menghindari kesakitan dan kerugian, serta cenderung bergerak mencari keuntungan dan kebahagiaan. Lalu persoalannya adalah bagaimana seluruh hasrat dan kepentingan manusia mencari keuntungan yang tentu saja dapat saling berbenturan satu sama lain itu diperdamaikan? Jawabannya adalah tatanan ekonomi.

Lewat tatanan ekonomi yang dikondisikan menurut cara kerja serta prinsip-prinsipnya yang tertentu, seluruh hasrat dan kepentingan bukan saja dapat diperdamaikan, tetapi lebih dari itu ternyata dapat juga dioptimalisasikan. Maka biarlah setiap orang melepas hasratnya yang sering menggebu-gebu itu untuk mendapatkan profit, dan tatananpun akan bergerak menyeimbangkan diri dengan sendirinya. Investasi masuk dengan besarnya, dan konsumsi juga bergerak keluar dengan pesatnya. Dari sinilah muncul ungkapan terkenal ‘greed is good!’ (rakus itu baik adanya!). Dari sini pula muncul keyakinan bahwa sudah layak dan seharusnya, bahwa demi perdamaian dunia dan keberlangsungan umat manusia, ekonomi perlu menggantikan bahkan menggeser politik. Atas nama kebebasan (freedom), termasuk kebebasan untuk mendapatkan laba (profit), maka peran regulator harus dibuat seminimal mungkin, bahkan ditiadakan. Dari sinilah dimulai seluruh kisah ekonomi mengenai deregulasi pasar. Apa yang diandaikan tidak lain adalah tatanan politik yang bukan saja harus normal, melainkan juga harus netral, alias tidak perlu ada campur tangan politik di dalam ekonomi. Biarlah ekonomi (dalam hal ini pasar yang bebas itu) menentukan dan menetapkan segala-galanya. Jadi misalnya, kalau harga bahan bakar solar untuk nelayan di Pantura naik disamakan dengan solar untuk pemilik Range Rover Turbo Diesel, atau nilai rupiah anjlok karena para investor menarik modalnya ke luar negeri mengikuti trend mekanisme pasar global dan Anda merugi karena harga bahan-bahan pokok juga jadi menanjak, tenang-tenang saja…sebab semua itu niscaya dan alamiah adanya…kalau Anda memiliki jiwa entrepreneurship yang tinggi, Anda akan mampu mengubah semua kebuntungan itu menjadi keuntungan…jika tidak, maka terima saja kalau hidup Anda menderita. Lalu peran Negara? Dalam konteks ini tidak relevan Anda bertanya tentang Negara, sebab perannya memang harus minimal saja. Mungkin begitu kira-kira persoalan kalau dilihat dari sudut pandang naturalisme dan netralitas sistem yang diandaikan MPS.

Dari pengandaian dasar ini, maka kita bisa dengan segera membaca konsekuensinya. Konsekuensi yang muncul adalah alamiah pula sifatnya, yaitu: seluruh politik tidak lebih dari persoalan mengenai ekonomi. Ruang politik, secara perlahan tapi pasti, mulai memudar sirna digantikan oleh ruang pasar. Maka jangan heran jika para politisi dan partai-partai semuanya berpolitik dengan bertolak dari, juga demi mencari, profit uang, dan kemudian meng-uang-kan segala-galanya. Mereka yang sudah kaya, silakan masuk ke ruang politik dan berpolitik. Mereka yang mau kaya, silakan juga masuk ke ruang politik dan berjualan di sana. Maka aneh bahwa media dan khalayak ribut soal korupsi di dalam jajaran pemerintahan dan partai politik, sebab memang ruang politiknya telah bermetamorfosis menjadi ruang pasar, dan korupsi sebagai suatu bentuk upaya mencari laba (profit) tentu alamiahnya juga sifatnya. Bagaimana mungkin suatu tatanan atau sistem itu dibersihkan jika pengandaian dasar yang menopang dan menghidupinya tidak pernah dipertanyakan apalagi berubah? Pertanyaannya, jika ruang politik saat ini memang telah berubah menjadi ruang pasar, lalu di manakah politik? Di manakah politik itu bersembunyi? Telah wafatkah ia, atau sedang sekarat ia di suatu pojok Nusantara?

Jika kita memulai sedikit ‘pemetaan’ atau ‘analisis’ ini dengan bertolak dari kutipan seorang Henry Simons pelopor MPS, maka sudah selayaknya kita menutupnya dengan rujukan yang sama. Sebagai insight, menarik untuk melihat bahwa kelompok yang sekarang sangat berpengaruh ini ternyata memulai gebrakannya dengan menggantungkan diri, atau bahkan membeo pada seorang pengusaha kaya yang mendanai seluruh proyek riset mereka, yaitu William Volker, pemilik William Volker&Co yang kemudian mendirikan Volker Fund dan menjadi pendana bagi kegiatan-kegiatan MPS di masa-masa awalnya, membayar seluruh pemikir di dalamnya.[4] Melihat konteks ini, tidakkah aneh bagi Anda bahwa kelompok pemikir yang jelas-jelas dibayar oleh pembayar tertinggi yang mendesakkan seluruh kepentingannya ke dalam penelitian-penelitian mereka, berani-beraninya berbicara mengenai netralitas? Ataukah jangan-jangan mereka sebetulnya hanya melepaskan kecenderungan alamiah yang telah ada dalam diri para intelektual, para budayawan, para politisi sejak zaman purba, yaitu kecenderungan untuk menjual melacurkan diri pada the highest bidder (penawar tertinggi)? Maka tugas politik saat inipun sebenarnya menjadi lebih sederhana: mencari ke mana hilangnya politik itu di tengah-tengah pasar!

(Ditulis oleh Andras Svara pada Mei 2013 untuk Ito Prajna)


[1] Henry Calvert Simons, Economic Policy for a Free Society (Chicago: University of Chicago Press, 1948), p. 8.

[2] Rob van Horn & Philip Mirowski, “The Rise of the Chicago School of Economics and the Birth of Neoliberalism,” in Philip Mirowski & Dieter Plehwe (eds.,) The Road from Mont Pelerin (Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press, 2009), p. 153.

[3] Ito Prajna-Nugroho, Fenomenologi Politik – Membongkar Politik Menyelami Manusia (Purworejo: Sanggar Pembasisan Pancasila, 2013), hlm. 77.

[4] Rob van Horn & Philip Mirowski, “The Rise of the Chicago School of Economics and the Birth of Neoliberalism,” op.cit, pp. 155, 157, 164-165, 167.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s