BUKU BARU

SATUNYA KATA DAN TINDAKANExcerpt Buku

“SATUNYA KATA DAN TINDAKAN”

(Penerbit Sanggar Pembasisan Pancasila)

Oleh: Greg Sudargo, Pengantar: Yos Setiyoso, Epilog: Ito Prajna-Nugroho

isbn

MAWAS DIRI: BELAJAR DARI AMERIKA SERIKAT DAN CINA

Jika melihat Lincoln dan yang ada di pihaknya melakukan mawas diri, dan banyak dari mereka mempunyai kekuatan politik dalam mempengaruhi negara, maka bisa dikatakan mawas diri ini dilakukan tidak hanya dilakukan oleh ‘super-rich’, tetapi juga oleh ‘super-power’. Hapusnya perbudakan adalah juga berarti melepas (sebagian) kekuasaan mereka (atas orang lain). Kekuasaan yang ‘super’ ini, terutama kekuasaan atas budak-budak, dilepas. Dengan hapusnya perbudakan, dengan dilepaskannya sebagian kekuasaan dari kelompok ‘super-power’, yang sekaligus ‘super-rich’ ini ternyata telah mengubah tata-interaksi dan tata-hidup bersama bangsa Amerika. Ketika ‘potensi pemberontakan’ dalam negeri berhasil di’minimalisir’ dengan membebaskan ‘rakyat yang tertindas’ maka AS bisa lebih konsentrasi menghadapi pesaing-pesaing dari belahan dunia lainnya. Dan selain itu, budak yang telah dibebaskan itu, ketika kemampuannya semakin meningkat, bukankah mereka juga pada akhirnya ikut memperkuat penyerapan hasil produksi (industri) juga?

AS di bawah Obama sekarang ini juga sedang melakukan instropeksi besar-besaran. Berbagai krisis dan situasi sosial di mana kemiskinan semakin meningkat di AS memaksa Obama dan kawan-kawan beserta sebagian dari para ‘super-rich’ melakukan mawas diri. Apalagi di belahan dunia lain, raksasa China sedang bangkit dari tidur lamanya. Dan sekali lagi, itu bukannya tanpa perlawanan sengit.

(Dikutip dari: Greg Sudargo, Satunya Kata dan Tindakan (Purworejo: Sanggar Pembasisan Pancasila, 2013), hlm. 33-34)

DISIPLIN HASRAT DAN KERASNYA MORALITAS PEMIMPIN

Tatanan politik mungkin dapat dipahami sebagai suatu bentuk bangunan hasil penataan bersama yang selalu berada dalam posisi tegang di antara dua kutub: 1) apa yang seharusnya/sebaiknya ada (what supposes to be / das Sollen), dan 2) apa yang senyata-nyata ada (what really is / das Sein). Posisi yang pertama menjadi dasar titik tolak bagi seluruh normativitas dan moralitas. Posisi yang kedua menjadi dasar titik tolak bagi seluruh realisme politik. Suatu tatanan sosial-politik-ekonomi dapat disebut sebagai tatanan (order) tidak lain karena ia merupakan sebuah intermediasi (posisi tengah/tegang) di antara normativitas moral dan aktualitas riil, antara moralitas tentang ‘yang baik’ dan realitas manusia sebagaimana adanya.

Bersama dengan asumsi ini diandaikan pula bahwa ia/mereka yang mendapat mandat untuk memimpin dan mengelola suatu tatanan politik adalah ia/mereka yang mampu mengambil posisi intermediasi di antara moralitas ‘yang baik’ dan realitas konkret. Dengan kata lain, ia/mereka yang memimpin dan mengelola suatu tatanan diandaikan tidak hanyut tenggelam hanya dalam salah satu kutub saja, melainkan mampu memainkan gerak tegang di antara kedua kutub tersebut. Mereka/ia yang mendapat mandat memimpin suatu tatanan diandaikan mampu berdiri kukuh-tegak di antara terangnya norma-norma moral dan gelapnya hasrat-hasrat degil/rakus manusia. Kemampuan untuk berdiri kukuh-tegak di antara ketegangan dua kutub (moralitas yang terang dan hasrat manusia yang gelap) menjadi ukuran penentu apakah suatu tatanan itu tetap bertahan utuh dalam kesatuannya atau justru retak menuju pada kebinasaannya.

Kenyataan ini menunjukkan satu hal penting, yaitu: moralitas pemimpin pastilah berbeda dan diandaikan melampaui moralitas mereka yang dipimpinnya. Artinya, keutamaan yang disyaratkan dari pemimpin pastilah lebih tinggi, lebih keras dan lebih sulit dari keutamaan yang dimiliki oleh orang kebanyakan. Pemimpin adalah sedikit manusia yang teruji, terbaik, telah membuktikan diri, dan terpilih memperoleh mandat. Inilah sebabnya mengapa tidak semua orang dapat/layak menjadi pemimpin, dan tidak semua orang mau atau berani bersedia untuk mengambil risiko yang muncul dari posisi tersebut. Bukanlah elitisme yang hendak diungkapkan dari pengandaian ini, bukan pula esoterisme dan eksklusivisme kelas pemimpin, sama sekali bukan. Pengandaian ini tidak lain hendak menunjukkan satu hal penting, yaitu perlunya etika politik kepemimpinan yang bertolak dari kondisi riil-konkret realitas politik.

[…]

Sebagai suatu bentuk jalan tengah di antara kedua aliran besar Filsafat Klasik ketika itu, filsafat Stoa merupakan jalan tengah yang keras dan berat. Keras dan beratnya tuntutan praktis filsafat Stoa membuat Stoisisme memiliki ciri yang eksklusif, dalam arti bahwa filsafatnya memang tidak diperuntukkan bagi semua orang. Eksklusivitas filsafat Stoa bukanlah eksklusivitas yang bersumber dari keyakinan naif-elitis tentang superioritas kelas manusia tertentu, sama sekali bukan. Eksklusivitas filsafat Stoa adalah eksklusivitas yang dibangun di atas dasar pemahaman tentang manusia yang sangat realistik. Justru karena pandangannya yang realistik inilah maka filsafat Stoa memiliki ciri praktis yang kuat. Stoisisme melihat bahwa manusia pada umumnya ditandai oleh ketidaktahuan (ignorance) dan pelupaan-diri (self-forgetfulness). Maka kebanyakan manusia juga pada umumnya tidak mengenali dirinya sendiri, tidak tahu diri, dihempas ke sana kemari oleh dorongan-dorongan hasratnya sendiri dan mengikuti apa saja yang dapat memuaskan/menentramkan hasrat-hasratnya.

[Dikutip dari: Ito Prajna-Nugroho, “Epilog: Disiplin Hasrat dan Kerasnya Moralitas Pemimpin,” dalam Greg Sudargo, Satunya Kata dan Tindakan (Purworejo: Sanggar Pembasisan Pancasila, 2013), hlm. 36-38; 43-44]

____________________________

Informasi Pemesanan Buku :

Kontak : Teguh Nugroho ( 081578870474 )

Harga  : Rp 10.000,- (belum termasuk biaya kirim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s