Kutipan Buku

SATUNYA KATA DAN TINDAKANMarcus Aurelius, Lingkaran Filsafat, dan Kerasnya Laku Hidup Seorang Kaisar Stoa

Moralitas Stoa diciptakan, dituliskan, dan dimadahkan bagi mereka sedikit orang yang harus terampil berenang-berselancar di dalam kubangan hasrat kepentingan. Moralitas Stoa diciptakan, dituliskan, dan disabdakan bagi mereka yang memperoleh mandat atau mendaku-diri sebagai pemimpin. Karena sejak awal filsafat Stoa menekankan pada pendaya-gunaan atau optimalisasi bagian jiwa yang berfungsi untuk mengkomando-memerintah keseluruhan diri manusia (hegemonikon), maka sejak awal pula filsafat Stoa telah menjadi etika filosofis bagi mereka yang memiliki kewajiban/mandat untuk mengkomando dan memerintah tatanan yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Mungkin bukan tanpa sebab Marc Aurèl atau Marcus Aurelius (121-180 M), kaisar termasyhur kekaisaran Romawi dari tahun 161 hingga 180 M, memilih untuk memerintah kekaisaran paling berkuasa di muka bumi ketika itu dengan dikelilingi oleh para filsuf Stoa. Junius Rusticus, filsuf Stoa sekaligus guru pribadi Sang Kaisar yang darinya Aurelius muda mendalami filsafat Stoa, diberinya kedudukan sebagai ketua parlemen atau Konsul Senator di tahun 162 M untuk masa jabatan satu tahun, dan setelah itu diberi mandat kepercayaan sebagai walikota Roma (Ibukota Kekaisaran Romawi) dari tahun 162 hingga 168 M. Sampai meninggalnya Junius Rusticus di tahun 170 Masehi, Rusticus menjadi sahabat kaisar yang paling dekat dan terpercaya. Para sahabat dan penasihatnya yang lain seperti Claudius Maximus, Cinna Catulus, Claudius Severus, Flavius Boethius, dll, semuanya adalah filsuf-pemikir Stoa dengan laku-hidup yang keras-berat, dan semuanya ia tempatkan di lingkaran terdalam kekaisaran. Bahkan Sang Kaisar sendiri adalah seorang filsuf Stoa yang menjalani secara konsisten prinsip-prinsip dasar etika Stoa dan terkenal memiliki laku-hidup yang keras serta sederhana di tengah segala kemewahan lingkungan kekaisaran. Di tengah segala kemewahan dunia yang dimilikinya, Marcus Aurelius memilih hidup sederhana, hanya mengenakan satu lapis jubah, hanya sedikit minum anggur, dan seringkali tidur di lantai hanya beralas tikar. Dengan kekuasan mutlak tanpa-batas yang ia miliki sebagai seorang kaisar, Marcus Aurelius terkenal mampu membatasi kekuasaannya sendiri, bertindak tepat-bijak dan tahu-batas, tetapi tidak ragu untuk mengambil keputusan tegas bahkan menyatakan perang di saat keutuhan kekaisaran menjadi taruhannya.

Mungkin bukan tanpa alasan bahwa di masa itu, ketika kekaisaran Romawi secara bertubi-tubi menghadapi berbagai ancaman perpecahan dari luar (dikepung oleh suku-suku barbar dari Jerman Utara, Eropa Timur, dan Afrika) maupun ancaman disintegrasi dari dalam (dirongrong oleh intrik politik kotor para petinggi negara), kekaisaran Romawi justru tetap berdiri kuat-kukuh bahkan mengalami salah satu masa keemasannnya yang paling gemilang. Mengikuti tafsiran Pierre Hadot, kita bisa mengaitkan keutuhan dan kejayaan Romawi ini dengan keputusan Sang Kaisar Marcus Aurelius untuk mengambil kerasnya moralitas Stoa sebagai prinsip kepemimpinannya. Kita juga bisa mengaitkan gemilangnya pemerintahan Romawi ketika itu dengan kebijakan Sang Kaisar untuk menempatkan para filsuf Stoa sahabat-sahabatnya di lingkaran terdekat kekaisaran, para sahabat yang tidak haus kekuasaan, para sahabat yang tidak akan segan-segan menghentaknya dengan kritik tajam di saat Sang Kaisar mulai lupa-diri, para sahabat yang selalu membiasakan Sang Kaisar dengan kerasnya perdebatan filsafat dan beratnya laku-hidup Stoa, para sahabat yang tetap setia berada di sampingnya saat Sang Kaisar sendiri mulai terancam olah para panglima perang dan senatornya yang berkhianat penuh intrik licik.

Pierre Hadot menyebut lingkungan kekaisaran di masa Marcus Aurelius sebagai “lingkaran kekaisaran dengan aktivitas filsafat yang paling intens.”

(Dikutip dari: Ito Prajna-Nugroho, “Epilog: Disiplin Hasrat dan Kerasnya Moralitas Pemimpin,” dalam Greg Sudargo, Satunya Kata dan Tindakan (Purworejo: Sanggar Pembasisan Pancasila, 2013), hlm. 60-62)


MILITERISASI RUANG

“Behind the invisible hand”, sering kemudian dikatakan selalu ada “the invisible fist”. “Invisible fist”? Bukankah kadang atau bahkan sering juga bisa dikatakan secara terbuka ada “iron fist” saja? Artinya, mengutip Adam Smith tentang “tangan-tangan tak terlihat” dalam mekanisme pasar, bukankah di belakang “tangan-tangan tak terilihat” itu ada “kepalan besi”? VOC pun datang ke Nusantara bukannya tanpa pasukan. Yang terakhir soal “iron fist” memang tidak disebut oleh Adam Smith, tetapi Smith memperingatkan bahwa ketika 2-3 orang atau sedikit orang berkumpul, maka hati-hati jika kemudian kumpulan itu akan mewujudkan kesepakatan sebagai semacam kartel.

Dalam konteks semacam itulah, Noam Chomsky menulis sebuah artikel Militarizing Space “to protect U.S. interests and investment”[i] kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Space di dalam tulisan itu berarti ruang angkasa, sehingga isi tulisan itu adalah tentang upaya Amerika Serikat dalam membangun kekuatan militer berbasis ruang angkasa demi melindungi kepentingan dan investasinya di seluruh dunia. Meski kelihatan canggih karena melibatkan tekhnologi tinggi, pada dasarnya pertimbangan dasarnya tidaklah baru. Chomsky dalam tulisan itu menuliskan, bagaimana angkatan laut Inggris dikembangkan untuk mengawal kapal-kapal dagang mereka, dan kemudian langkah ini diikuti Jerman dan lainnya. Hasilnya adalah, Perang Dunia I, demikian Chomsky. Demikian juga VOC pada waktu lalu, jauh sebelum perang Dunia I meletus, dan hasilnya adalah dijajahnya Nusantara. Maka dapat dikatakan di sini, meski space dalam tulisan itu menunjuk pada ruang angkasa, tetapi pada dasarnya itu juga bisa menunjuk space atau ruang-ruang strategis di permukaan bumi, di mana negara-bangsa bertebaran di atasnya. Di mana sumber-sumber pangan dan energy ada di atas dan di dalam perut bumi. Dan dalam hal inilah, militerisasi ruang kita letakkan pengertiannya.

Dalam praktek, militerisasi ruang yang diperuntukkan untuk melindungi kepentingan dan investasi jelas sebenarnya kasat mata, bukan sesuatu yang invisible. Hanya saja itu bisa menjadi sangat kabur –seakan invisible, karena berbagai tirai asap yang dihembuskan di depannya secara marathon.

Militerisasi ruang dan militerisasi mirip, tetapi jelas berbeda, apalagi ketika pemahaman militerisasi kemudian dihadapkan dengan sipil atau masyarakat sipil (civil society) seperti yang pernah begitu menyesaki ruang diskursus pada awal-awal reformasi. Diskursus itu sebenarnya sungguh sangat berkualitas karena pada dasarnya penggunaan kekuatan militer seperti yang terjadi pada era Orde Baru, di mana militer sebagai alat politik, alat represi demi langgengnya kekuasaan sudah tidak kompetibel lagi dengan segala perkembangan dunia yang ada.

[Dikutip dari: Greg Sudargo, Satunya Kata dan Tindakan (Purworejo: Sanggar Pembasisan Pancasila, 2013), hlm. 24-24]

Untuk membaca lebih lanjut silakan menghubungi kontak pemesanan buku :

Kontak : Teguh Nugroho ( 081578870474 )

Email   : pergerakan@gmail.com

Harga  : Rp 10.000,- (belum termasuk biaya kirim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s