Disiplin Hasrat: Keutamaan Politik dalam Filsafat Stoa

Fenopol_9_13Moralitas Stoa dibangun di atas dasar realisme psikologis bahwa manusia adalah makhluk hasrat yang akan selalu digerakkan oleh hasrat-hasrat alamiahnya, dan cenderung tunduk padanya. Disiplin hasrat menjadi menjadi batu penjuru yang memisahkan antara moralitas kebanyakan manusia yang hidup secara alamiah mengikuti begitu saja hasrat-hasratnya (the fools) dan moralitas sedikit mereka yang hidup secara mawas-diri dengan terlatih untuk membaca serta menguasai hasrat-hasratnya (the sage). […] Disiplin hasrat menjadi ukuran kerasnya moralitas bagi sedikit manusia yang berani menyebut diri sebagai pemimpin.

[…]

Inti dari disiplin hasrat terletak pada satu kata Yunani, yaitu askesis. Askesis, secara sederhana, berarti latihan atau tepatnya mengoptimalkan berbagai daya kemampuan diri dengan melatihnya. Melatih dan menempa diri, itulah askesis. Apa yang dilatih ditempa tidak lain adalah kemampuan untuk mengenali, membaca, dan menetapkan batas. Batas yang hendak dikenali, dibaca, dan ditetapkan itu tidak lain adalah batas hasrat-hasrat alamiah dalam diri setiap manusia yang cenderung melebar meluas sampai tak terbatas. Hal pertama yang hendak dikenali tidak lain adalah batas antara apa yang sepenuhnya tergantung pada daya kuasa diri seseorang, dan apa yang sama sekali tidak tergantung padanya. Hal kedua yang hendak dibaca adalah gerak hasrat yang cenderung bergerak tanpa-batas dan mengaburkan batas di antara kedua batasan tersebut. Hal terakhir yang hendak ditetapkan adalah kesadaran-diri/mawas-diri yang ajeg konsisten dan mampu berdiri kukuh tegak di area batas tersebut. Kemampuan menarik garis batas, inilah inti dari askesis.

Dengan melakukan askesis, seseorang masuk ke dalam dirinya sendiri. Dengan masuk ke dalam dirinya sendiri ia menemukan bahwa internalitas batinnya tak ubahnya seperti pulau kecil di tengah samudera tanpa batas yang ganas ombaknya terus mengikis pulau itu perlahan-lahan. Samudera tanpa batas itu adalah hasrat manusia sendiri.

[…]

Dalam bahasa Pierre Hadot, melalui askesis cara Stoa, seseorang semakin terlatih untuk menarik, menetapkan, dan mempertahanan garis batas pertahanan jiwanya; garis batas itu adalah apa yang disebut Hadot sebagai ‘benteng batin’ (la citadelle interieure / inner citadel).

[Sumber tulisan: Ito Prajna-Nugroho, “EPILOG: Disiplin Hasrat dan Kerasnya Moralitas Pemimpin,” dalam Greg Sudargo, Satunya Kata dan Tindakan (Purworejo: Sanggar Pembasisan Pancasila, 2013), hlm. 46-48]

 Untuk membaca lebih lanjut silakan menghubungi kontak pemesanan buku :

Kontak : Teguh Nugroho ( 081578870474 )

Email   : pergerakan@gmail.com

Harga  : Rp 10.000,- (belum termasuk biaya kirim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s