Sikap Tahu Batas: Meneropong Hasrat Partai Politik di Tengah Pusaran Uang

“When it is a question of money, everybody is of the same religion.” François-Marie Arouet / Voltaire (1694-1778)

tahu batasJika di penghujung tahun 60-an ada ungkapan ‘kita Keynesian semua sekarang’, maka di era pasca Perang Dingin ini ada yang bilang ‘kita kapitalis semua sekarang’. Mungkin ditambah catatan kecil, kecuali Korea Utara. Jika kita kembali kepada satu prinsip utama kapitalisme, ungkapan itu tidaklah berlebihan. Bukankah, katakanlah Rusia dan China, Tirai Besi dan Tirai Bambu di masanya, sekarang juga mengenal pemisahan antara alat produksi dan buruh? Dimana alat-alat produksi itu bisa secara bebas dimiliki oleh orang-per-orang. Yang ini berbeda dengan jaman feudal ketika semua alat produksi hanya dimiliki oleh kaum bangsawan.

Alat produksi, dilihat dari asal-usulnya kiranya tidak lepas dari hasrat dasar manusia, mempertahankan hidup. Dengan segala keterbatasan struktur anatominya dan demi kelangsungan hidupnya manusia akhirnya menciptakan alat-alat. Tetapi apa yang dalam praktek sehingga kelangsungan hidup manusia benar-benar dapat berlangsung? Akumulasi, inilah yang dalam praktek membuat kelangsungan hidup manusia terjamin, bahkan sebelum manusia mengembangkan alat-alat produksinya. Kita makan, atau minum, pastilah sedikit demi sedikit dan ujungnya adalah terakumulasinya makanan dalam perut kita. Hasilnya, kenyang dan hilangnya rasa haus. Dan dengan itu kita hidup, sama halnya dengan bagaimana makluk hidup lain –binatang misalnya, mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Akumulasi ‘paling primordial’, makan dan minum, dari sisi lain dapat dilihat juga tidak sekedar demi melangsungkan hidup. Lapar dan haus adalah pengalaman yang tidak nyaman dan bisa berujung pada kesakitan dan bahkan kematian. Maka dalam konteks ini, akumulasi juga berarti menghindari rasa tidak nyaman. Ketika menjadi kenyang, rasa nyaman, rasa puas menggantikan segala ketidak-enakan karena lapar.

Tetapi manusia ada-di-dalam-dunia berbeda dengan binatang atau makluk hidup lainnya. Dunia dimana manusia hidup bukanlah sekedar habitat yang menyediakan segala hal demi kelangsungan hidup manusia, tetapi manusia juga menghayati dunia. Apa yang menjadikan manusia mampu menghayati dunia dan kemudian berbeda dengan binatang? Bahasa, terlebih karena dunia dimana manusia hidup di dalamnya hadir juga manusia-manusia lain. Dunia yang dihayati oleh manusia tentu lebih luas dari bahasa, tetapi bisa dikatakan juga, tanpa bahasa penghayatan manusia akan dunia menjadi tidak mungkin. Bahasa menjadikan manusia ‘kerasan’ dalam dunianya. Bahasa bagi manusia telah mengubah dunia tidak lagi sekedar habitat atau arena mempertahankan hidup saja. Dengan bahasa manusia menjadi menetap dan berakar dalam sebuah ‘rumah’, dan dengan itu juga ia mulai membangun peradabannya.

Jika di atas dikatakan bahwa bahasa menjadi rumah bagi manusia, apa sebenarnya yang mendasar dari ‘rumah’ tersebut? Kelihatannya adalah soal ‘batas’. Rumah sekaligus adalah dua hal, ia memberikan batas bagi penghuninya, dan ketidak-terbatasan ketika ia melongok keluar. Bahasa, apapun itu ia memberikan batas-batas, tetapi sekaligus juga ia memberikan jalan bagi manusia untuk melongok ketidak-terbatasan. Ketika orang mengatakan ‘cinta’, orang bisa sepakat tentang batas-batas yang disebut atau dimaksud dengan ‘cinta’ itu. Tetapi jelas juga, apa yang dihayati manusia tentang perasaan cinta pastilah lebih luas dan lebih dalam dari kata ‘cinta’ itu. Dengan bahasa kita juga bisa bicara tentang galaksi atau struktur DNA, sesuatu yang pada masanya sungguh tidak terbayangkan. Kita bisa bicara kemungkinan punahnya manusia sekian juta tahun yang akan datang, atau munculnya spesies baru. Dan seterusnya. Ini semua menjadi mungkin karena bahasa.

***

Jika kita bicara kapitalisme dalam konteks awal perkembangannya, maka ia berkembang seiring ketika masalah hasrat ditempatkan sebagai hal yang memang apa adanya melekat pada manusia. Manusia apa adanya ya mempunyai segala hasratnya. Manusia mengejar kepentingan diri adalah manusia apa adanya, dan itu bukanlah dosa. Dan ketika hasrat-hasrat yang ada di belakang kepentingan diri itu dibuka dari ‘kerangkeng dosa’, meledaklah energi yang maha dahsyat itu. Dan sebenarnya tidaklah jauh berbeda ketika energi itu hanya digenggam oleh kaum bangsawan di jaman feudal, dengan segala akibatnya. Sejarah mencatat bagaimana energi yang dahsyat itu bisa memajukan peradaban, tetapi juga sekaligus mengancam peradaban, baik ketika itu di tangan kaum bangsawan atau pun ketika di tangan orang per orang.

Berbagai cara telah dicoba untuk mengendalikan ‘kuda hitam’ yang terus meledak-ledak ini, bahkan ketika ‘kuda hitam’ ini sudah diterima dan ditempatkan di tempat ‘terhormat’. Upaya yang terakhir mungkin bisa diringkas begini, kenapa harus dikendalikan? Mengapa tidak dibenturkan dengan hasrat-hasrat lain yang dimiliki oleh manusia-manusia lain juga sehingga nantinya akan ada keseimbangan? Dan dengan keseimbangan yang dinamis itu peradaban manusia berkembang. Tetapi, paling tidak menilik yang terjadi di era Reformasi ini, katakanlah hasrat menumpuk kekayaan melalui korupsi, ada yang mengira hasrat itu akan jinak ketika bertemu dengan penjara. Ketika berbenturan dengan hasrat akan nama baik, akan reputasi. Atau hasrat masuk surga, misalnya. Yang terjadi adalah, seperti dikatakan oleh Voltaire di awal tulisan ini, “ketika pertanyaannya adalah uang, setiap orang mempunyai agama yang sama”. Agama di sini bisa diganti dengan ideologi, partai, dan lain sebagainya.

Tetapi pengalaman Indonesia era Reformasi ini bisa dikatakan tidak berlaku jika kita mengambil apa yang terjadi dalam sejarah Jepang di era Restorasi Meiji, misalnya. Etos, reputasi ternyata bisa menjadi bagian penting ketika bangsa Jepang mulai melepas hasrat warganya. Penghayatan akan realitas bangsa Jepang saat itu, salah satunya ‘dibimbing’ oleh samurai-samurai yang menyebar masuk dalam kehidupan sehari-hari rakyat Jepang.

Apa yang mendasar dari seluruh perjalanan sejarah terkait dengan hasrat ini? Entah hasrat dikendalikan atau pun dibenturkan, yang dibicarakan adalah ‘batas’. Reformasi pada dirinya adalah juga upaya mengingatkan soal ‘batas-batas’ kekuasaan, terlebih disini kekuasaan sebagai pengejawantahan kedaulatan rakyat. Juga ‘batas-batas’ bagi yang menjalankan kekuasaan sehingga korupsi, kolusi dan nepotisme semakin hilang di NKRI ini. Tetapi rasanya, setelah era Reformasi berjalan hampir separuh rentang waktu Orba, ‘batas’ yang dicita-citakan sejak 1998 itu ternyata belum terwujud, bahkan dalam hal tertentu justru semakin kabur.

Pertanyaannya, siapa yang semestinya dapat sebagai ‘penjaga batas’ ini? Atau ketika hasrat-hasrat itu saling berbenturan, siapa yang bisa diharapkan sejenak keluar arena dan melihat dengan jernih bahwa benturan-benturan itu sudah ‘mulai merusak’? Atau jika dikaitkan dengan judul, ketika kita hidup dalam seruan ‘kita kapitalis semua’, siapa yang akan bicara soal ‘batas’? Di dalam kehidupan demokrasi modern seperti yang kita jalani sekarang ini, peran itu sebenarnya ada di partai politik.

Tetapi bukankah partai politik itu juga lahir dari pusaran hasrat? Ya, dan itu tidak bisa diingkari. Lalu, bagaimana partai politik pada waktu tertentu mampu menjaga jarak dari segala hasrat itu? Bahasa, inilah sebenarnya hal pertama dan pokok yang mesti berkembang baik dalam partai politik. Politik tidak akan lepas dari permainan kata, tetapi –mengambil ungkapan Driyarkara, partai politik tidak boleh mempermainkan kata. Mempermainkan kata dalam hal ini adalah ‘meng-otak-atik’ kata sekedar sebagai otak-atik belaka tanpa pernah mau menanggung akibat dan terlebih dari itu, tanggung jawabnya. Inilah sayangnya, di era Reformasi ini partai politik terlalu lama terjebak dalam ‘mempermainkan kata’. Dan sebagai akibatnya adalah, politik berjalan seakan ‘tanpa tahu batas’ lagi. Istilah orang muda sekarang, semau gue

Apa yang dipertaruhkan ketika mempermainkan kata sudah sedemikian ‘ugal-ugalan’ dan tak tahu diri ini? Ada beberapa kemungkinan di sini, salah satunya sudah disinggung di depan, orang akan mencari ‘rumah’ lain, yaitu ‘rumah tindakan’. Jika dilihat lebih jauh lagi, mengapa tindakan bisa menjadi ‘rumah’ bagi manusia? Ada kemungkinan, dalam batas-batas tertentu, ‘tindakan’ itu bisa dihayati manusia sebagai bahasa juga, yaitu ‘bahasa isyarat’. Dalam jangka pendek mungkin hal ini dapat memberikan ‘rumah’ bagi manusia, tapi jangka panjang kelihatannya tidak akan mampu lagi menampung segala kompleksitas manusia. Tetap diperlukan bahasa dalam arti kata sebab seperti sudah disampaikan di depan, dalam kata ada ‘batas’ sekaligus potensi ketidak-terbatasan. Sedangkan dalam tindakan, dimensi ketidak-terbatasannya sungguh terbatas. Yang lebih parah lagi, ketika kita merasa nyaman di ‘rumah tindakan’ ini, kita secara tidak sadar sebenarnya ada dalam sebuah ‘rumah besar’ yang mana kita tidak mampu ikut terlibat membangun di dalamnya karena kemampuan kita dalam bahasa sudah meredup.

Kemungkinan kedua ketika mempermainkan kata semakin ugal-ugalan dan politik semakin semau gue, tidak tahu batas, adalah anarki, satu ujung yang tidak kita harapkan bersama.

***

Jika kita lihat pendidikan kita, satu masalah besar sampai sekarang masih kita hadapi adalah masalah pendidikan bahasa. Pendidikan bahasa yang semestinya jauh melebihi apa yang disebut sebagai kompetensi itu. Dongeng yang bermutu misalnya, tidak sekedar pesan moral yang dibawanya, tetapi juga dapat mulai mengenalkan pada anak-anak kita ‘rumah’nya yang sungguh bermartabat. Dibiasakannya anak berani bicara di depan teman-temannya dan bagaimana teman-temannya mengapresiasi adalah salah satu cara ‘menghormati’ bahasa. Bahasa yang menampakkan kejujuran, keberanian, dan mengundang yang lain untuk menanggapinya secara tulus. Adakah ruang dan waktu ini? Belum lagi ketika kita bicara soal mengapresiasi karya sastra. Atau contoh kecil yang bisa menunjukkan betapa bahasa menempati peran sentral, terkait dengan pendidikan di Jerman. Apa yang diharapkan dari universitas-universitas di Jerman dari calon-calon mahasiswanya yang berasal dari sekolah setingkat SMA itu? Pengetahuan yang banyak mengenai fisika, kimia, biologi atau yang lainnya? Ternyata bukan! Tuntutan dari universitas-universitas di Jerman untuk calon-calon mahasiswanya, menurut Drost, bisa diringkas dalam satu kata: hochsculreife, artinya: kematangan, baik intelektuil maupun emosional, agar dapat menempuh studi akademis. Tingkat kematangan itu dapat dilihat dari kemampuan bernalar dan bertutur yang telah terbentuk. Bernalar dan bertutur diperoleh dan dibentuk terutama lewat matematika dan bahasa.[1]

Maka ketika pendidikan bahasa sampai sekarang tetap saja tidak berubah paradigmanya, pertanyaannya adalah, bodohkah kita atau memang ada yang sengaja membuat kita untuk menjadi bangsa medioker saja? *** (Greg Sudargo, 27/9/2013)


[1] J. Drost SJ., Dari KBK Sampai MBS. Esai-esai Pendidikan, Penerbit Buku Kompas, 2005, hlm. 25

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s