Filsafat (Fenomenologi) dan Ideologi (Politik)*

Diskusi Fenopol dalam Kelas Malam

Diskusi Fenopol Kelas Malam

Dalam acara kelas filsafat malam hingga dini hari di Bulaksumur, Yogyakarta, salah seorang mahasiswa mencetuskan pertanyaan yang kurang lebih dapat dirumuskan sebagai berikut: “Dalam suasana kehidupan masyarakat yang telah terpelanting ke status survival (mempertahankan hidup hari demi hari), di mana dalam survival itu mengejar uang menjadi satu-satunya motif hidup, apa yang bisa diberikan oleh filsafat (fenomenologi) selain kepusingan? Bukankah filsafat (fenomenologi) menjadi kemewahan yang tidak dimiliki orang pada umumnya yang bergulat dengan survival?”

Pertanyaan sederhana ini, meskipun tampak sederhana, memuat pengandaian yang tidak sederhana dan penting adanya. Pertanyaan ini bukan saja langsung menohok alasan adanya ilmu-ilmu (termasuk filsafat), tetapi juga membongkar alasan adanya struktur kekuasaan yang sedang berjalan. Jika segala yang kita bicarakan dan kita bangun, mulai dari struktur pemikiran, struktur masyarakat, struktur pendidikan, struktur pemerintahan, struktur ekonomi, sistem pemilu, dsb, ternyata fungsinya hanya menyelubungi realitas dari masalah yang sesungguhnya, bukankah lalu semua struktur itu telah kehilangan dasar legitimasinya? Inilah kira-kira inti persoalan yang hendak diangkat oleh mahasiswa peserta kelas filsafat malam hari itu. Butuh berjam-jam kemudian bagi kami untuk mendiskusikan persoalan ini secara filosofis. Dan setelah berjam-jam berlalu ternyata persoalan belum secara memuaskan terurai, maka kamipun menyerah pada keniscayaan alamiah yang sangat manusiawi, yaitu rasa kantuk.

Terlepas dari pertanyaan dan persoalan yang tidak/belum terjawab tuntas, pertanyaan di atas pada dirinya merupakan pertanyaan filosofis. Filsafat tidak berpretensi untuk menjawab segala persoalan. Filsafat bukanlah jawaban atas segala sesuatu, dan memang tidak ditujukan demikian. Sebab, persoalan utama dalam filsafat bukanlah memberikan jawaban yang memuaskan. Jika Anda ingin jawaban yang memuaskan dan tuntas, agama dan kepercayaan adalah tempatnya. Tujuan filsafat bukanlah pertama-tama menawarkan jawaban apalagi kesuksesan atau keberhasilan layaknya khotbah para motivator. Tujuan filsafat terfokus kepada hal lain yang sama sekali berbeda, lebih sederhana namun penting, yaitu: bagaimana mengajukan pertanyaan yang tepat atas persoalan yang mendasar.

Tanpa pertanyaan yang tepat, maka persoalan yang sesungguhnya akan tetap terselubungi oleh berbagai hal lain yang hanya tampak seolah-olah penting. Mungkin saja terjadi bahwa kita tidak/belum bisa menemukan jawaban yang jitu atas persoalan yang sedang kita hadapi karena selama ini kita mengajukan pertanyaan yang keliru! Pertanyaan yang tepat dapat menyingkapkan struktur dasar sistem (masyarakat dan negara) yang menopang dunia keseharian kita. Pertanyaan yang tepat juga dapat membongkar struktur dasar kesadaran kita yang memang mudah lupa dan mudah teralihkan. Dan memang, mengajukan pertanyaan yang tepat serta mendasar adalah jauh lebih sulit daripada memberikan jawaban yang sesuai dengan keinginan banyak orang. Dalam perkataan fenomenolog Martin Heidegger, pertanyaan menyingkapkan dasar adanya manusia.

Oleh karena kelas filsafat malam itu membahas filsafat fenomenologi dalam kaitannya dengan dunia kehidupan (Lebenswelt), maka fenomenologi menjadi kerangka berpikir yang memandu arah serta fokus pertanyaan kami malam itu. Dalam kerangka berpikir fenomenologi, segala persepsi dan pengalaman sehari-hari kita selalu bergerak dalam wilayah fenomenal. Fenomena bukanlah gejala (symptom)! Antara fenomena (phainomena) dan gejala (symptoma) terdapat jarak konsep/arti yang sangat jauh. Di Indonesia jarak konsep ini menghilang dan mengacaukan arti di antara keduanya. Jika dikatakan bahwa kesadaran kita bergerak dalam wilayah fenomenal ini berarti apa yang kita lihat, kita tangkap, kita sadari, dan kita pahami pada awalnya terbatas hanya pada apa yang tertampakkan (penampakkan / phainomenon) dari berbagai hal di sekitar kita. Dari segala yang tertampakkan itu kita selalu hanya menangkap satu sisinya (perspektif) dan sekadar mengandaikan adanya sisi-sisi yang lain.

Kita melihat, menangkap, menyadari bahwa bungkus rokok kretek di depan kita selalu terdiri dari enam sisi, berbentuk persegi, dan memiliki isi batang rokok dengan jumlah tertentu. Meskipun pada kenyataannya bisa saja terjadi bahwa bungkus rokok kretek itu kosong tanpa satu batang kretekpun tersisa, atau lebih parah lagi, bungkus rokok itu adalah korek api gas yang dibuat menyerupai bungkus rokok! Tetapi meskipun begitu, kesadaran kita selalu menangkap apa yang tertampakkan dari realitas tanpa terkecuali. Inilah yang disebut sebagai sikap alamiah (natural attitude / naturalische Einstellung). Sikap alamiah adalah sikap awal manusia di hadapan dunia/realitas. Sikap alamiah menganggap bahwa apa yang tertampakkan bagi kesadaran kita itu selalu mewakili/merepresentasikan sesuatu itu sendiri dalam keutuhan dan keseluruhannya. Persoalannya, apa yang tertampakkan bagi kita itu belum tentu sungguh-sungguh sesuatu itu sendiri. Apa yang tertampakkan itu bisa saja ternyata adalah hal lain yang sama sekali berbeda, sebagaimana contoh bungkus rokok dan korek gas.

Fenomenologi, sebagaimana dimulai oleh Edmund Husserl, menyadari bahwa terdapat perbedaan yang mendasar antara apa yang tertampakkan dan sesuatu itu sendiri, antara persepsi kita tentang sesuatu dan sesuatunya itu sendiri sebagaimana adanya. Dalam sejarah filsafat misalnya, kita dapat melihat bagaimana perbedaan di antara keduanya seringkali rancu. Ilmu-ilmu alam, dengan bertolak dari sikap alamiah yang empirik, juga melakukan kerancuan yang sama dengan memutlakkan apa yang tampak kasatmata itu sebagai keseluruhan dari sesuatu pada dirinya sendiri.

Namun demikian, tidak seperti Kant yang membatasi pengetahuan hanya pada wilayah fenomenal (dan menyatakan bahwa sesuatu pada dirinya sendiri [das Ding an sich] tidak dapat diketahui), fenomenologi Husserl sejak awal membawa semangat optimis bahwa sesuatu pada dirinya sendiri itu dapat diketahui, jika kita memiliki metode dan perspektif yang tepat. Semangat optimis ini bertolak dari penemuan fenomenologi Husserl bahwa di manapun dan kapanpun kesadaran manusia selalu merupakan kesadaran akan sesuatu. Kesadaran secara nyata (riil) dan konseptual selalu bergerak keluar dari dirinya sendiri dan terarah kepada sesuatu. Kesadaran kita telah selalu memuat suatu isi/substansi yang riil dan konkret. Inilah yang dimaksud sebagai intensionalitas kesadaran. Maka, jika kita dapat menjernihkan kesadaran dari berbagai muatan persepsi, opini, imaji, dan prasangka yang mengikutinya lewat sikap alamiah dalam hidup sehari-hari, maka dapatlah kita menangkap sesuatu yang sesungguhnya itu dalam segala keutuhan dan keseluruhannya. Inilah sebab mengapa fenomenologi Husserl memiliki satu prinsip kerja yang terkenal, yaitu: züruck zu den Sachen selbst / back to the things themselves (kembali kepada sesuatu itu sendiri).

‘Sesuatu’ dalam konteks fenomenologi berarti juga ‘apa yang senyatanya ada’, ‘apa yang sesungguhnya’, atau ‘dasar dari realitas yang tampak’. Dari prinsip kerja ini jelaslah bahwa fenomenologi sejak awal bersifat kritis, yaitu mempertanyakan apa yang selama ini telah diterima begitu saja sebagai benar (taken for granted). Dengan mempertanyakan, meragukan, menggugat maka terciptalah jarak antara manusia dengan dunianya dan juga jarak antara manusia dengan dirinya sendiri. Penjarakan (distansiasi) ini merupakan dasar dari segala sikap reflektif. Hanya melalui sikap reflektif-kritis inilah kita mampu berjarak dari dunia alamiah dan sikap alamiah yang mendeterminasi kita dalam rutinitas hidup sehari-hari. Tanpa kemampuan reflektif-kritis manusia tak ubahnya mesin biologis yang hidup menurut gerak determinasi hasrat-hasrat alamiahnya belaka (makan – minum – seks).

Dengan mereduksi segala yang tampak ke dalam sesuatu yang menjadi dasarnya, fenomenologi menemukan korelasi atau saling-keterkaitan di antara struktur dunia benda-benda (struktur obyek) dan struktur kesadaran (struktur subyek). Di tingkat yang paling mendasar, realitas kebendaan (obyek-obyek material) selalu berkorelasi (saling terkait) dengan realitas kesadaran subyektif diri kita masing-masing. Tidak ada keterpisahan di antara dunia dan manusia, di antara obyek dan subyek.

Onggokan batang kayu di hadapan saya baru bermakna sebagai batang kayu melalui kesadaran saya akan onggokan kayu tersebut. Inilah sebabnya mengapa onggokan batang kayu yang awalnya tidak berarti, melalui upaya manusia (kesadarannya), bisa menjadi sesuatu yang berarti, misalnya menjadi kayu bakar atau tombak untuk berburu. Artinya, realitas obyek telah selalu hadir menurut konstitusi pemahaman/pemaknaan kita yang tertentu atasnya. Kesadaran akan sesuatu atau korelasi inilah yang menjadi alpha (awal mula) bagi segala jenis aktivitas teknik dan teknologi.

Di wilayah sosial-politik, korelasi inilah yang memungkinkan manusia membangun struktur sosial dan sistem nilai-nilai moral budaya. Konstitusi pemahaman/pemaknaan yang berbeda-beda inilah yang juga menyebabkan mengapa setiap bangsa dan peradaban memiliki sistem sosial-politik-kebudayaan yang berbeda dan beragam antara yang satu dengan yang lain. Jika pada gilirannya kemudian sebuah sistem nilai, suatu bangsa, atau suatu agama mencaplok, mendominasi, dan bahkan menginjak nilai-nilai atau sistem sosial lain, hal ini tidak mengubah kenyataan bahwa setiap sistem nilai dan struktur sosial yang ada (yang pernah ada dan yang akan ada) pada awalnya merupakan bentuk korelasi (saling keterkaitan) antara struktur obyektif realitas dan struktur subyektif kesadaran.

Dengan menyelami saling keterkaitan ini, maka terbentuklah suatu anatomi antara manusia dan dunianya. Seluruh tatanan nilai-nilai moral (struktur kebudayaan) dan sistem sosial-politik (struktur kekuasaan) sesungguhnya terbentuk di wilayah antara (space in-between / zwischen Raum) di antara manusia dan dunianya. Setiap sistem, setiap idelogi, setiap tatanan merupakan wilayah-antara atau media-antara yang terbentuk sebagai hasil korelasi yang tertentu antara manusia (sebagai subyek) dan dunianya (sebagai obyek). Dalam pengertian lain dapat dikatakan bahwa jika obyek (struktur realitas) yang sama dipahami oleh struktur pemahaman manusia yang berbeda, maka dapat terbentuk sistem kekuasaan atau tatanan sosial-kebudayaan yang sama sekali lain dan berbeda dari yang sudah ada.

Dalam perspektif fenomenologi, korelasi ini memunculkan cakrawala kemungkinan yang tanpa batas bagi dunia kehidupan manusia. Persoalannya, seringkali apa yang merupakan wilayah antara ini merembes dan mengendap sedemikian rupa ke dalam kesadaran kita sehingga korelasi kita dengan dunia dibatasi atau dideterminasi secara satu arah oleh struktur mediasi yang sudah ada. Demikian juga, struktur mediasi yang berada di wilayah antara ini dapat dengan mudah mengendap membeku dan hadir sebagai satu-satunya realitas (kebenaran) yang kita ketahui.

Bagi fenomenologi, keretakan maupun ketiadaan jarak antara manusia dan dunianya memunculkan satu hal pokok, yaitu krisis. Krisis dalam pengertian fenomenologi dapat dipahami dalam dua artinya, yaitu: 1) hilangnya jarak antara manusia dan dunianya yang di dalamnya terjadi identifikasi naif antara manusia dengan sistem; 2) keretakan antara manusia dan dunianya yang di dalamnya mekanisme sistem sosial-politik tidak berjalan bersamaan dengan suasana batin atau keprihatinan dasar masyarakatnya. Dalam kerangka fenomenologi, krisis merupakan kegagalan dari terbentuknya wilayah-antara / media-antara yang efektif di antara struktur subyektif pemahaman kesadaran dan struktur obyektif realitas yang terus-menerus berubah. Manusia yang tidak lagi bisa memahami dunia di sekitarnya, yang gamang arah dengan segala arus informasi serta perubahan yang membanjirinya, adalah manusia yang berada dalam tahap kritis. Demikian juga struktur realitas yang tidak lagi dapat memberikan arti bagi manusia-manusia di dalamnya adalah struktur realitas yang tidak lagi manusiawi, telah kehilangan legitimasinya, dan berada dalam krisis. Krisis memperlihatkan bahwa terdapat kebuntuan atau kegagalan di wilayah korelasi di antara manusia dan dunianya, antara individu dan sistem sosial-politik-ekonomi yang menaunginya. Krisis memperlihatkan bahwa korelasi yang secara mendasar bersifat intensional telah berubah sifat menjadi semata-mata material-reifikatif sifatnya.

Pada titik ini, fenomenologi dan politik menjadi terkait erat satu sama lain, sebagaimana filsafat dan ideologi selalu saling berkaitan. Fenomenologi membongkar selubung imaji yang mengaburkan penglihatan kita atas realitas dan persoalan yang sesungguhnya. Melalui metode fenomenologi, sistem sosial dan struktur kekuasaan memperlihatkan diri sebagai wilayah-antara yang bersifat pejal, sama pejalnya dengan konstitusi pemahaman/kesadaran manusia, ia dapat membentang jauh ke atas, tetapi juga dapat terpelanting ke tingkat yang paling bawah. Pemahaman yang tepat atas korelasi intensional di antara manusia dan dunianya menjadi faktor yang menentukan kemampuan seseorang atau suatu bangsa berdiri kukuh dalam ruang-antara di antara internalitas pemahamannya dan eksternalitas dunia yang dihadapinya. Fenomenologi, setidaknya menuntun kita untuk menentukan satu hal yang sederhana namun mendasar: menetapkan letak persoalan yang sesungguhnya di tengah belantara psuedo-persoalan yang selalu hadir dalam luberan informasi dan kediktaturan rutinitas yang kita semua hadapi sehari-harinya.

Ito Prajna-Nugroho

Pakem – Kaliurang, Yogyakarta, 3 Desember 2013

* Untuk keperluan hak cipta dalam penerbitan buku yang akan terbit berikutnya, Fenomenologi Politik II: Membongkar Demokrasi, Mendekonstruksi Politik, maka seluruh daftar rujukan dan pustaka dalam tulisan ini tidak dicantumkan.

One thought on “Filsafat (Fenomenologi) dan Ideologi (Politik)*

  1. Anak Rantau mengatakan:

    Tajam, provokatif dan reflektif. Artikel filsafat yg ringkas tapi mencerahkan, apalagi memasuki tahun politik indonesia 2014 yg penuh ketidakpastian dan pencitraan. Dr sekian banyak tulisan dan buku fenomenologi yg ditulis oleh dosen2 filsafat, hampir semua medioker dan penuh retorika. Tulisan di atas berbeda dlm hal bobot dan kejelasan pemahaman. Salut Mas Prajna. Salam rantau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s