SEJENAK BERFENOMENOLOGI DI ‘JEMBATAN SERONG’ JAKARTA

??????????Apakah yang terlintas dalam benak pikiran Anda saat mendengar kata ‘ekologi’ dan ‘keprihatinan lingkungan’? Alam raya beserta pepohonan, hewan-hewan, pegunungan, dan lautan? Tentu kita lebih terbiasa mendengar istilah ‘keprihatinan sosial’ atau ‘ideologi’ daripada istilah ‘ekologi’ dan ‘keprihatinan lingkungan’. Peristilahan menjadi bertambah asing dan aneh saat muncul istilah ‘fenomenologi lingkungan’. Tetapi Anda mungkin akan lebih merasa aneh lagi saat mengetahui lebih jauh bahwa ‘fenomenologi lingkungan’ tidak sekadar berkenaan dengan alam raya beserta isinya, melainkan lebih dari itu berkenaan dengan kesadaran manusia dan cara beradanya yang khas.

??????????Inilah tema yang dibahas dalam diskusi panel yang diadakan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, pada 28 Maret 2014 lalu. Diskusi panel yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Driyarkara dalam memeringati Dies Natalis Sekolah Tinggi Filsafat yang berdiri pada 1969 itu mengangkat problem ekologi sebagaimana dikaji dalam disertasi doktoral Dr. Sarasdewi (Universitas Indonesia) yang juga didaulat menjadi pembicara. Berjudul lengkap ‘Dimensi Ontologis Relasi Manusia dan Alam – Suatu Pendekatan Fenomenologi Lingkungan terhadap Problem Disekuilibrium’, disertasi tersebut menjadikan fenomenologi sebagai poros utama analisisnya. Tema diskusi panel yang diangkat oleh senat mahasiswa ‘Jembatan Serong’ kali ini jelas tidak terdengar ‘seksi’ seperti tema tentang Marxisme, kapitalisme, kritik ideologi, dan sebagainya. Tetapi tema tersebut mengangkat dua hal penting yang selalu diandaikan dalam segala keseharian kita namun sering terabaikan begitu saja, yaitu: kesadaran manusia dan dunia-kehidupan yang di dalamnya kita hidup. Diskusi panel dengan tema khas fenomenologi ini menghadirkan juga Ito Prajna-Nugroho dari Pusat Studi Fenomenologi dan Politik – Sanggar Kebangsaan, yang sendiri adalah alumnus STF Driyarkara, sebagai pembicara kedua.

Mengacu pada tiga pemikir utama dalam filsafat fenomenologi, yaitu Edmund Husserl, Martin Heidegger, dan Maurice Merleau-Ponty, Mbak Yayas (panggilan Dr. Sarasdewi) menjelaskan bagaimana krisis ekologis di era teknologi dan globalisasi saat ini bersumber pada kesalahpahaman antroposentrik yang salah kaprah dalam memahami cara berada manusia sebagai subyek rasional yang sepenuhnya berdaulat di hadapan dunianya, menjadi Tuan di atas dunianya. Akibatnya, terjadi proses obyektivikasi (instrumentalisasi dan eksploitasi) atas dunia beserta segala isinya yang membuat semakin berjarak serta semakin terasingnya relasi antara manusia dan dunianya. Inilah yang disebut sebagai problem disequilibrium antara manusia dan dunianya (alamnya). Padahal, sebagaimana dijelaskan Sarasdewi, relasi manusia dan dunia merupakan relasi yang bersifat ontologis dan fundamental, yaitu relasi yang berkaitan langsung dengan cara berada manusia yang paling mendasar. Relasi ontologis inilah yang oleh Martin Heidegger disebut sebagai Ada-di-dalam-dunia (in-der-Welt-sein / Being in the World), yaitu relasi yang ditandai oleh keterlibatan eksistensial manusia di dalam dunianya sebelum munculnya segala refleksi dan rasionalisasi, relasi yang menunjuk langsung pada ketidakterpisahan antara manusia dan dunianya. Dengan kata lain, apa yang pada mulanya merupakan relasi ontologis-fundamental antara manusia dan alam ternyata lewat teknologi, yang juga merupakan hasil daya cipta manusia, justru bergeser menjadi relasi keterasingan yang membawa pada krisis ekologis di abad ke-20 dan 21. Krisis ekologis yang nyata-nyata ada tetapi selalu terabaikan ini memperlihatkan juga pergeseran kesadaran manusia modern yang memandang alam semata-mata sebagai instrumen untuk dimanfaatkan (atau persisnya sebagai komoditas untuk menghasilkan uang).

??????????Dalam konteks itulah, sebagaimana dijelaskan Ito Prajna-Nugroho, fenomenologi lingkungan berjalan paralel dengan fenomenologi politik. Krisis ekologis tersebut tidak dapat dipisahkan dari krisis politik yang berkenaan dengan cara kesadaran (juga ketidaksadaran) manusia dalam menata atau mengorganisasi dunia sosial beserta segala kepentingan di dalamnya. Mengacu secara spesifik pada fenomenologi Husserl, Ito Prajna-Nugroho memaparkan bagaimana segala krisis yang mendera saat ini berasal-usul dari kenaifan ilmu pengetahuan dalam memahami cakupan serta batasan metode kerjanya. Kenaifan ilmu dalam menyamaratakan status obyek dan fenomena ke dalam fakta mentah belaka, inilah yang membuat manusia modern tidak lagi dapat melihat horison kemungkinan yang berada jauh melampaui fakta-fakta empirik dan tidak terjangkau oleh ukuran-ukuran metode ilmu. Akibatnya, terjadilah pemutlakkan (universalisasi) atas apa yang sebetulnya partikular (terbatas). Dalam kaitan ini, sebagaimana dijelaskan Ito Prajna, instrumentalisasi alam dan keterasingan manusia dari alamnya merupakan konsekuensi logis yang muncul dari krisis di tingkat epistemologis tersebut.

Karena letak persoalan terdapat dalam konstitusi kesadaran manusia dalam memahami dunianya, maka penyelesaiannya juga niscaya kembali kepada cara bagaimana kesadaran manusia itu perlu dipahami serta didefinisikan ulang. Proses penyadaran, atau dalam bahasa Paulo Freire proses konsientisasi, menjadi konsep penting yang menggeser fenomenologi dari kajian epistemologis dan ontologis menjadi praksis politik dan praksis sosial untuk mengkonstitusi kembali struktur kesadaran masyarakat. Pada tingkat ini persoalan tidak lagi seremeh-temeh menyalahkan teknologi, mendakwa perusahaan-perusahaan energi dan tambang, atau mengutuki para pemodal. Lebih dari itu, persoalan ekologis menjadi suatu bagian dari apa yang oleh Husserl disebut sebagai ‘tugas tanpa akhir’ (unendliche Aufgabe) dalam menyingkapkan serta menguraikan berlapis-lapis struktur kesadaran kita, dari yang paling luar hingga ke yang paling dalam, dari yang paling permukaan hingga ke yang mendasar, dari yang paling palsu hingga ke yang sejati. (-VP-/GS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s