SEJENAK BERFENOMENOLOGI DI PUSHAM SURABAYA

Pada 23-24 Maret yang lalu, Pusat Studi Hak Asasi Manusia (PUSHAM) Surabaya mengadakan forum temu kebangsaan. Digagas oleh PUSHAM dan Komunitas Kebangsaan Surabaya, acara ini melibatkan kerja sama yang padu di antara berbagai kalangan, mulai dari aktivis sampai unsur pemerintah, dari tukang ojek sampai ke para donatur, dari tokoh agama sampai ke tokoh nasionalis, dari seniman sampai ke intelektual akademis. Pagelaran wayang (Wayang Kampung Sebelah) yang dipelopori oleh dalang Ki Jlitheng Suparman menjadi puncak acara yang memberikan karakter khas bagi seluruh rangkaian acara, sekaligus juga menyatukan ratusan masyarakat yang hadir di Karang Menur Surabaya. Namun, sehari sebelum puncak acara ini berlangsung, sebagaimana karakter khas PUSHAM dan Pergerakan Kebangsaan dalam menyelenggarakan berbagai acara, dilangsungkan terlebih dulu diskusi yang berjalan hingga dini hari. Forum diskusi itu sendiri adalah sebuah diskusi lesehan yang diikuti oleh banyak pemuda serta berbagai kalangan dari berbagai strata masyarakat. Diskusi lesehan ini sendiri diadakan jauh dari gegap gempita dunia publik, namun justru sifatnya yang esoteric itulah yang memungkinkan terjadinya intensitas tukar pikiran dan gagasan di antara peserta diskusi. Diskusi tersebut juga mengambil tema yang tidak populer dan masih asing bagi masyarakat awam Indonesia, yaitu filsafat fenomenologi.

Acara diskusi tersebut bukanlah kali pertama tim dari Pusat Studi Fenomenologi dan Politik datang dari Jakarta dan Semarang ke Surabaya untuk memenuhi undangan PUSHAM. Seperti biasa terjadi sebelumnya, diskusi berjalan dengan seru, penuh intensitas, dan penuh pertanyaan-pertanyaan tajam bermutu bagi dua pembicaranya, yaitu Bapak Soedaryanto (pendiri Komite Nasional Pergerakan Kebangsaan) dan Mas Ito Prajna-Nugroho (pembelajar fenomenologi Husserl dan penulis buku Fenomenologi Politik). Dipandu oleh sesepuh Komite Nasional Pergerakan Kebangsaan Cak Rafael Suharyoso sebagai moderator, diskusi bergerak dari persoalan epistemologi (filsafat pengetahuan) dan ontologi (filsafat tentang apa yang sejatinya Ada) hingga ke persoalan-persoalan mengenai tatanan politik. Sebagaimana diawali oleh Cak Rafael, persoalan pokok yang dihadapi dalam dunia sosial-politik adalah para aktivis dan para ahli sosial/politik tidak lagi memiliki alat kerja yang memadai dalam memahami realitas sosial-politik di sekitar mereka.[1] Singkatnya, terjadi krisis cara pandang baik dalam dunia praktis maupun praksis politik kebangsaan. Bagi fenomenologi, sebagaimana dijelaskan oleh Ito Prajna-Nugroho, krisis ini adalah krisis cara pandang yang berkaitan dengan ketidakmampuan untuk melihat horison kemungkinan yang jauh berada di luar keterbatasan situasi saat ini. Krisis ini membuat orang tidak lagi dapat melihat selain dari apa yang tertampakkan, memercayai selain dari apa yang ditawarkan untuk dipercayai, menilai sesuatu selain dari ukuran penilaian yang kini digandrungi (uang). Tentang apa yang tidak tertampakkan, tidak terlihat, dan tidak ternilai, orang telah kehilangan wawasan pandangan atasnya. Inilah sebabnya mengapa diskusi secara ketat diawali oleh pembahasan akan problem pokok dalam epistemologi dan fenomenologi, yaitu pembedaan antara obyek, fakta, dan fenomena.

Dinamika diskusi yang terjadi memperlihatkan bahwa apa yang pada mulanya adalah persoalan epistemologi ternyata memiliki dampak yang besar di wilayah sosial-politik. Satu hal yang paling nyata adalah bagaimana proses penyempitan cara pandang dari obyek ke fakta mentah belaka ternyata juga berjalan bersamaan dengan proses penyempitan cara pandang dari politik demokratis yang autentik ke politik uang lima tahunan yang banal. Dengan kata lain, proses politik sebagaimana proses pemahaman manusia, telah mengalami penyempitan arti yang membuat motif-motif kebangsaan menyempit menjadi motif-motif keuntungan belaka, kepentingan nasional yang menjadi tujuan UUD 1945 menyempit menjadi kenikmatan serta survival pribadi belaka.

Berkaitan dengan persoalan inilah Bapak Soedaryanto secara konkret memperlihatkan bagaimana perkembangan proses globalisasi telah memasuki tahapannya yang baru yang belum mendapatkan bentuknya yang baku. Proses perkembangan ini sendiri secara langsung memengaruhi tatanan geopolitik di Asia Pasifik secara umum, dan Republik Indonesia secara khusus.[2] Melalui telaah fenomenologi yang ketat dan disiplin Bapak Soedaryanto menunjukkan bagaimana Indonesia secara langsung akan terkena dampak gelombang baru globalisasi tersebut. Bapak Soedaryanto, yang memadukan fakta kini dan fenomena Indonesia sepuluh tahun ke depan, memerlihatkan bagaimana analisis fenomenologi mampu membuka horison masa depan yang tidak tertampakkan, dan mampu menggambarkan peta politik nasional serta internasional yang belum ternyatakan secara faktual.

Antusiasme para peserta diskusi malam itu menunjukkan bahwa penyempitan cara berpikir dan cara berpolitik kita saat ini bukanlah sebuah keniscayaan yang fatalistik. Proses penyempitan dan pendangkalan itu akan menemui kutub lawannya di sisi lain, yaitu perlawanan dalam bentuk proses penyadaran kembali kesadaran manusia Indonesia melalui perluasan cara pandang dan pendalaman cara berpikir kita masing-masing.

Mungkin pada akhirnya kita perlu mendengarkan kembali kata-kata yang pernah disuarakan oleh tokoh cendikiawan Indonesia, Soedjatmoko:

“Dunia kita ini penuh dengan gagasan. Bahkan kadang-kadang gagasan-gagasan itu jauh lebih banyak dibanding yang kita perlukan. Tetapi gagasan apapun, bagaimanapun merangsang serta menjanjikan, hanya bisa berguna kalau ada perorangan, atau suatu kelompok kecil, yang mau mengambilnya serta menjalankannya dengan komitmen dan dedikasi, tekad serta ketahanan, yang dalam hal ini akan berhadapan dengan begitu banyak tantangan. Mereka itulah yang membangun konsepsi itu menjadi nyata, mengembangkan kaitan-kaitannya, jaringan-jaringan kerja perorangan dan lembaga, dan akhirnya membangun reputasinya baik dalam bidang keilmuan maupun bidang praktis.” [3]

 (VP, Maret 2014)

________________

Catatan-catatan

[1]Transkrip diskusi Fenomenologi Politik di Pusham, Karang Menur, Surabaya, 22 Maret 2014, hlm. 1.

[2]Ibid., hlm. 29-30.

[3]Soedjatmoko, “Diperlukan Usaha-usaha Global bagi Kelangsungan Hidup Manusia – Naskah Pidato Pusat Pengembangan Asia Pasifik, 29 Juni 1989,” dalam Soedjatmoko, Soedjatmoko dan Keprihatinan Masa Depan, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991, hlm. 37.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s