Sejenak Berfenomenologi di Tengah Pasar

Rembrandt - The Slaughtered OxPasar memang tidak ada ketika manusia mulai menapak sejarah evolusinya. Tetapi dalam perjalanan sejarah manusia, pasar terbangun entah itu disengaja atau tidak. Manusia menciptakan berbagai peralatan untuk mendukung apa yang menjadi hasrat dasarnya: melangsungkan hidup. Pasar adalah salah satunya. Apa yang disebut sebagai hasrat melangsungkan hidup itu ada karena manusia selalu dihadapkan pada kematian. Maka pasar sebagai ‘alat dukung’ kelangsungan hidup pun adanya bayang-bayang kematian adalah tidak terhindarkan. Kita kemudian bisa mengatakan bahwa pasar dalam bentuk paling awalnya sebagai kegiatan barter tidak akan berhasil jika manusia gagal menunda hasrat-hasrat membunuhnya. Maka adalah tepat pendapat Baron Montesquieu yang mengatakan bahwa perdagangan itu mendorong peradaban.

Bayang-bayang kematian dalam pasar nampak dengan telanjang dalam ungkapan the iron fistbehind the invisible hand, di belakang tangan-tangan tak terlihat (selalu) ada kepalan besi. Sejarah kedatangan VOC di bumi Nusantara membuktikan hal itu, dan banyak lagi sampai sekarang ini. Ketika Adam Smith mengatakan bahwa bukan karena kebaikan si tukang roti kita mendapatkan roti, tetapi pertama-tama adalah kepentingan diri si tukang roti itu sendiri[i][1], kita harus sadar bahwa di balik kepentingan diri (self-interest) itu sebenarnya ada hasrat melangsungkan hidup. Jadi, pada dasarnya hidup yang dipertaruhkan, dan bukannya sekedar sepotong roti. Dari sini kita bisa semakin paham mengapa ada negara-negara yang meski begitu getol mendesakkan apa yang sekarang kita sebut sebagai pasar bebas itu, tetapi tetap saja dengan berbagai macam cara masih menerapkan proteksi pada hal-hal tertentu. Karena kelangsungan hidup warganya, kelangsungan hidup bangsanyalah yang dipertaruhkan.

Tetapi di satu sisi kita bisa melihat pasar ternyata juga dapat sebagai instrumen membagi kesejahteraan, meningkatkan kemakmuran, yang ujungnya adalah lebih menjamin kelangsungan hidup. Pertanyaannya adalah, bagaimana sesuatu yang sangat lekat dengan bayang-bayang kematian itu mampu memberikan kehidupan yang lebih baik? Atau bagaimana bayang-bayang kematian dalam pasar itu dapat dikelola dengan baik sehingga energi besar yang berasal dari hasrat melangsungkan hidup itu benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan bagi kebanyakan orang?

Sebelum melangkah lebih jauh perlu diingat di sini bahwa dari beberapa hal di atas nampak jelas bahwa kehidupanlah yang membentuk pasar, dan bukan sebaliknya. Maka adalah sah juga, sebagai bagian dari kehidupan, kematian yang membayangi pasar perlu dikelola dengan baik. Kalau menunda hasrat saling bunuh dalam era barter lebih mengandalkan kemampuan langsung ke dua belah pihak, pasar yang semakin kompleks seperti sekarang ini sudah tidak mungkin lagi hanya mengandalkan kemampuan individu (pelaku) semata. Apalagi era globalisasi yang pada dasarnya adalah semakin terbukanya dan intensifnya perdagangan internasional seperti sekarang ini.

Jika kita berdiri di atas kuda Troya berpikir positif, berbicara kematian yang membayangi pasar mungkin tidak pada tempatnya. Tetapi jika melihat beberapa hal di atas, ini sebenarnya tidak ada hubunganya dengan berpikir positif atau negatif, tetapi adalah masalah hidup yang dipertaruhkan. Apalagi di atas sudah ditegaskan, pasar adalah bagian dari kehidupan, dan bukan sebaliknya. Bagi Thomas Hobbes, jika dia memakai istilah pasar, mungkin ia akan melihat bagaimana pun pelaku-pelaku di pasar adalah manusia apa adanya. Agak berbeda bagi Adam Smith bertahun kemudian setelah Hobbes, para pelaku-pelaku pasar itu masih diharapkan mempunyai atau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh pihak lain. Tetapi mengapa Adam Smith masih membahas adanya ‘sekte agung’ (famous sect)[ii][2]? Apapun itu kelihatannya bagi keduanya masih memandang perlunya ‘wasit yang tidak ikut bermain’. Yang namanya wasit di lapangan biasanya jumlahnya memang lebih sedikit dari pemain. Tapi wasit penting dalam permainan, dan jika wasit baik maka para pemain bisa mengerahkan segala kemampuannya untuk mengalahkan lawannya. Tentu pasar bukanlah permainan, bukan sebuah game, karena ada hidup dipertaruhkan di situ. Tetapi meski begitu metafora wasit di atas sedikit banyak bisa menggambarkan apa yang dimaksud dengan ‘kuat’ dalam judul tulisan ini.

Di tengah pasar, negara pertama-tama adalah wasit. Pemerintah negara Indonesia di tengah-tengah pasar adalah wasit. Seorang wasit yang paham betul lapangan bertandingnya, yaitu seperti dituliskan dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4, sebuah lapangan yang ditujukan untuk mensejahterakan rakyat, melindungi tumpah darah, mencerdaskan bangsa dan ikut dalam pergaulan antar-bangsa. Mengapa wasit dalam hal ini pemerintahan negara Indonesia harus kuat? Sebab negara dimana pemerintahan itu berada dalam praktek sulit diharapkan betul-betul berjalan dalam rel kepentingan umum. Negara dalam praktek sulit untuk netral.

Negara kuat dalam konteks Perang Dingin bisa lain sekali bagaimana kita harus menghayatinya ketika Tembok Berlin sudah runtuh. Jika kita masih menghayati negara kuat dalam frame Perang Dingin itu menandakan horison kita sama sekali tidak berkembang. Negara kuat pasca runtuhnya Tembok Berlin adalah kuat dalam menahan diri/mampu bersikap tahu-batas dan mampu mawas diri. Menahan diri untuk tidak mudah tergoda berperilaku seperti wasit yang ikut bermain. Senyawa oligarki politik-pemburu rente adalah contoh konkret yang mana sampai sekarang pun masih merupakan masalah besar bagi kita yang hidup di Indonesia ini. Mawas diri adalah kemampuan untuk melihat diri, dalam hal ini berdasarkan amanat yang ada dalam Pembukaan UUD 1945. Mungkin bagi yang menempatkan self-interest sebagai dewa tertinggi perlu melihat pendapat Amartya Sen tentang ‘keajaiban’ ekonomi Jepang pasca Perang Dunia II:

“Indeed, in the case of Japan, there is strong empirical evidence to suggest that systematic departures from self-interest behavior in the direction of duty, loyalty and goodwill have played a substantial part in industrial success.”[iii][3]

Pemerintah yang kuat karena dua hal di atas dalam praktek tidak mungkin terbangun hanya mengandalkan diri sendiri saja, terlebih dalam dunia yang semakin terbuka ini. Dia memerlukan dukungan dua hal, pertama, partai yang kuat, dan kedua, tentara yang kuat. Tentara yang kuat diperlukan untuk menghadapi apa yang sudah disebut di atas, the iron fistbehind the invisible hand. Sedangkan partai yang kuat akan membuat pemerintahan bisa fokus sebagai wasit yang mampu menahan diri dan mawas diri. Partai politik dalam praktek adalah alat utama perebutan kekuasaan, dan jika partai lemah maka perebutan kekuasaan itu bisa menjadi lubang besar bagi berbagai kepentingan masuk, yang mana kepentingan-kepentingan itu bisa saja hanya mau ‘bermain’ di luar lapangan Pembukaan UUD 1945. Jika ini yang terjadi maka bisa saja wasit akan nampak hanya ‘seolah-olah tidak ikut bermain’, lugasnya: boneka.*** [iv][4] (7/04/2014)

Greg. Sudargo

Juga dimuat di http://www.pergerakankebangsaan.org/?p=1331

[i][1] Rogers, Kelly, 1997, Self-Interest An Anthology of Philosophical Perspectives, New York: Routledge, hlm. 157: “It is not from the benevolence of the butcher, the brewer, or the baker, that we except our dinner, but from their regard to their own interest.”

[ii][2] Smith, Adam, 2004, The Theory of Moral Sentiments, Cambridge University Press, hlm. 3, Advertisement

[iii][3] Sen, Amartya, 2004, On Ethics and Economy, Malden: Blackwell Publishing, hlm. 18

[iv][4] Terimakasih kepada IPN atas masukannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s