Sejenak Menyimak Lirih Suara Carl Schmitt

Ito Prajna-Nugroho

REMBRANDT 2 - A Scholar in A Room with Winding StairsBukan sikap anti-demokrasi atau anti-parlemen yang hendak dinyatakan melalui kritik Carl Schmitt, sama sekali bukan. Apa yang hendak dinyatakan Schmitt melalui kritiknya adalah peringatan bahwa sebuah sistem politik yang mengingkari fundamen politiknya adalah sistem politik yang berada dalam bahaya jatuh ke dalam kediktaturan, entah itu kediktaturan sistem, kediktaturan uang, kediktaturan media, ataupun kediktaturan seorang sosok pemimpin. Dalam arti ini, Carl Schmitt sama sekali tidak menyuarakan anti-demokrasi, melainkan justru menyuarakan demokrasi autentik! Atau persisnya: menyuarakan demokrasi untuk kembali kepada autentisitasnya yang lebih dari sekadar elektoralisme dan proseduralisme. Namun demikian, dalam horison politik yang terjebak oleh sempitnya pemahaman akan demokrasi, suara Carl Schmitt adalah suara yang hanya terdengar lirih. Dalam suatu trend depolitisasi yang menjadikan politik tidak lebih dari sekadar marketing, suara Carl Schmitt adalah suara di kejauhan yang nyaris tidak akan terdengar di tengah gemericik suara pundi-pundi uang.

Politik bersandar pada kekhasannya yang utama, yang darinya berasal segala tindakan yang secara khusus bersifat politik. […] Kekhasan yang khas dari politik, yang darinya segala tindakan dan motif politik dapat diasalkan, adalah pembedaan antara kawan dan lawan. […] Pembedaan kawan dan lawan menunjuk pada derajat intensitas tertinggi dari setiap penyatuan atau pemisahan, dari setiap asosiasi atau disasosiasi.[1] […] Konsep kawan dan lawan perlu dipahami dalam artinya yang konkret dan eksistensial, bukan sebagai metafor atau simbol, bukan dicampur-aduk dan dilemahkan dengan pengertian-pengertian ekonomi, moral, apalagi disalahpahami dalam artinya yang privat individualistik sebagai ekspresi psikologistis dari emosi-emosi pribadi. […] Secara rasional tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa-bangsa terus-menerus mengelompokkan diri menurut kutub kawan dan lawan, dan itu berarti pembedaan tersebut tetap aktual. Bagi setiap orang yang berada dalam medan politik, konsep pembedaan tersebut adalah sebuah kemungkinan nyata yang terus menerus hadir sebagai kemungkinan.[2]

Kutipan di atas bukanlah suatu preskripsi, melainkan sebuah deskripsi. Artinya, rumusan di atas adalah penggambaran obyektif yang menunjuk langsung pada spektrum pergerakan realitas politik sebagaimana adanya, bukan anjuran tentang bagaimana seharusnya. Kutipan di atas juga bukan suatu retorika omong kosong, melainkan sebuah gramatika politik. Artinya, rumusan Carl Schmitt di atas menunjuk pada logika dasar yang diandaikan oleh setiap bentuk tindakan politik, sebuah tata-logis atau tata-bahasa (grammar) yang mendasari setiap bahasa politik, dan bukan sekadar permainan kata-kata sampah layaknya kampanye pemilu atau bahasa instrumental omong kosong layaknya marketing politics yang tidak berbeda dengan pertunjukan sulap. Dengan kata lain, Carl Schmitt menunjuk pada dasar yang selalu ada-di-sana (Dasein) dalam setiap aktivitas politik, sebuah ontologi-fundamental yang sering tidak terlihat dan tidak tertampakkan tetapi ada di sana sebagai hal yang tidak terbantahkan dalam politik. Tidak setuju? Silakan baca baik-baik dan coba bantahlah Schmitt jika memang mampu.

Terlepas dari siapa sosok Carl Schmitt dan latar masa lalunya, apa yang (telah) dikatakannya jauh lebih penting karena mengacu kepada hal dasar dalam politik, baik sebagai teori maupun praktik. Sungguh sebuah keterbelakangan, bahkan kebodohan, jika seseorang menolak mengapresiasi sebuah pemikiran hanya karena mengutuk latar historis dari siapa sosok yang memikirkannya.

Dengan mengacu pada “pembedaan kawan dan lawan sebagai derajat intensitas tertinggi dari politik,” Carl Schmitt memperlihatkan apa yang mendasar di balik segala bentuk penampakkan politik, apa yang akan tetap tertinggal di dasar sana jika seandainya berbagai bentuk penampakkan politik sirna, entah itu penampakkan dalam rupa negosiasi, diplomasi, perang, sistem pemerintahan, sistem demokrasi, propaganda media, dan sebagainya. Dengan kata lain, apa yang ber-ada di balik setiap tindakan politik selalu lebih mendasar dari siapa yang berpolitik, selalu lebih permanen dibandingkan dengan siapa yang menjalankannya. Dalam lingkup tata geopolitik inter-nasional misalnya, apa yang menggerakkan pergeseran dan pemusatan tatanan dunia adalah kepentingan-kepentingan yang menjadi leitmotiv setiap bangsa-bangsa dalam menentukan kebijakan geopolitiknya. Leitmotiv ini dalam bahasa yang lebih praktis retorik mungkin dapat disebut sebagai kepentingan nasional sebagai apa atau dasar atau ruh yang menggerakkan arah kebijakan geopolitik setiap negara. Tanpa ruh penggerak itu suatu negara lumpuh sebagai sebuah entitas politik, tanpa daya sebagai sebuah kesatuan sosial-politik. Setiap negara niscaya memiliki leitmotiv tersebut, seperti terumuskan dalam Undang-undang Dasarnya masing-masing, sebagaimana Republik Indonesia memilikinya dalam UUD 1945. Setiap peperangan yang terjadi, setiap negosiasi dan diplomasi, setiap agresi dan distraksi, setiap persetujuan dan perlawanan, atau dalam istilah Schmitt setiap asosiasi dan disosiasi, semua berjalan dalam putaran poros kawan-lawan sebagai roda penggeraknya. Dalam bahasa Schmitt, setiap bentuk perubahan atau pembakuan tatanan (Ordnung / Order) adalah juga sebuah gerak keterarahan (Ortung / Orientation) kepada logika dasar kawan dan lawan.[3]

Mengacu pada ontologi-fundamental politik tersebut, konsistensi antara gramatika kawan-lawan sebagai fundamen penggerak politik dengan berbagai rupa penampakkannya dalam laku kebijakan politik adalah apa yang disebut sebagai kekuatan suatu negara-bangsa. Dalam istilah yang lebih schmittian, konsistensi atau kekuatan ini disebut juga sebagai kedaulatan[4], yaitu keputusan (kebijakan) yang di atas segala pengecualian berhasil diejawantahkan dalam praksis politik. Dalam konteks ini, kedaulatan merupakan keajegan antara gramatika dasar politik dan retorika praktik politik, kesatuan antara fundamen politik dan kebijakan-kebijakan konkretnya, gerak padu antara faktisitas ontologis politik dan faktualitas ontis politik sehari-hari, konsistensi antara kepentingan nasional dan perilaku para penyelenggara negara.

Dalam konteks ini, mengacu pada tulisan filsuf-budayawan Indonesia G. P. Sindhunata, yang menulis tentang Carl Schmitt tanpa (berani) menyebut nama Carl Schmitt, pembedaan kawan-lawan merupakan ‘fakta dan nilai abadi’ yang takkan pernah bisa diingkari keberadaannya.[5] Hanya saja, tidak seperti yang dijelaskan oleh Sindhunata, sebagai fundamen politik, pembedaan kawan-lawan tidak sekadar menunjuk pada perbedaan dan pertentangan,[6] melainkan justru menunjuk pada kesatuan antara fundamen tersebut dengan praktik sehari-harinya. Dengan kata lain, pembedaan kawan-lawan memerlihatkan apa yang menggerakkan politik sebagai politik autentik. Pembedaan itu menjadi batu penjuru yang mengukur apakah politik dijalankan secara autentik dan konsisten ataukah hanya dipraktikkan secara banal dan serampangan. Singkatnya, pembedaan tersebut menentukan karakter politik, ia menetapkan batas antara keberadaan dan ketiadaan tatanan politik, batas antara kedaulatan dan keterserakan suatu entitas politik.

Mengacu pada ontologi-fundamental yang sama, inkonsistensi atau patahan antara fundamen politik dan praktik keseharian politik merupakan bentuk dari krisis politik di tingkatnya yang mendasar. Jika Husserl menyebut krisis tersebut sebagai krisis epistemologis dan Heidegger menyebut krisis yang sama sebagai ‘pelupaan akan Ada’ (Seinsvergessenheit), maka Carl Schmitt menyebut krisis itu sebagai depolitisasi.[7] Dalam konteks Carl Schmitt, depolitisasi terjadi karena retaknya relasi di antara fundamen politik dan praktik keseharian politik. Praktik politik atau kebijakan-kebijakan politik yang telah melupakan (mengingkari) dasar atau fundamennya, itulah yang disebut sebagai depolitisasi. Konsekuensinya, politik yang berjalan adalah politik tanpa ruh politik, atau politik yang menjadi sekadar formalisme dan proseduralisme kosong yang dijalankan secara dangkal-dangkalan. Politik tanpa ruh politik itu dengan sendirinya akan mudah kesurupan oleh senyawa lain yang lebih menggiurkan dengan dampak yang juga lebih fatalistik, yaitu uang (dalam bahasa Sindhunata: Genderuwo).

Dalam kaitan ini, politik uang adalah konsekuensi logis dari depolitisasi yang terjadi dalam demokrasi. Atau persisnya: demokrasi yang semata-mata dipahami secara formalistik dan proseduralistik. Seperti apa yang telah dikatakan oleh Schmitt, dalam depolitisasi perkara politik ditelikung oleh perkara perdagangan dan ekonomi (uang).[8] Tidak dapat dilupakan juga bahwa bagi Schmitt depolitisasi ini bukanlah suatu kebetulan belaka, melainkan suatu proses ‘penjinakkan’ (neutralizierung / netralisasi) atas politik yang terjadi secara mekanis-sistematik bersamaan dengan menyebarnya paham saintisme dan legalisme. Dalam paham saintisme dan legalisme, pembedaan kawan-lawan menjadi tidak relevan sebagaimana sebuah mesin bekerja tanpa perlu memedulikan motif-motif manusiawi yang mengoperasikannya. Bagi mekanisme sebuah mesin, semua adalah lawan sekaligus kawan, tidak perlu pembedaan.[9] Inilah inti kritik Schmitt terhadap demokrasi liberal-parlementer, yaitu bahaya kecenderungan depolitisasi (lewat netralisasi fundamen politik) yang melekat di dalam sistemnya.

Bukan sikap anti-demokrasi atau anti-parlemen yang hendak dinyatakan melalui kritik, sama sekali bukan. Apa yang hendak dinyatakan Schmitt melalui kritiknya adalah peringatan bahwa sebuah sistem politik yang mengingkari fundamen politiknya adalah sistem politik yang berada dalam bahaya jatuh ke dalam kediktaturan, entah itu kediktaturan sistem, kediktaturan uang, kediktaturan media,[10] ataupun kediktaturan seorang sosok pemimpin. Dalam arti ini, Carl Schmitt sama sekali tidak menyuarakan anti-demokrasi, melainkan justru menyuarakan demokrasi autentik! Atau persisnya: menyuarakan demokrasi untuk kembali kepada autentisitasnya yang lebih dari sekadar elektoralisme dan proseduralisme. Namun demikian, dalam horison politik yang terjebak oleh sempitnya pemahaman akan demokrasi, suara Carl Schmitt adalah suara yang hanya terdengar lirih. Dalam suatu trend depolitisasi yang menjadikan politik tidak lebih dari sekadar marketing, suara Carl Schmitt adalah suara di kejauhan yang nyaris tidak akan terdengar di tengah gemericik suara pundi-pundi uang.

Dalam konteks Indonesia, suara Carl Schmitt menjadi alat pengukur yang mengukur sejauh mana segala proses politik yang telah kita lalui sejak Reformasi adalah suatu proses politik yang autentik, ataukah justru sebuah proses depolitisasi yang bergerak semakin jauh dari fundamennya. Jika depolitisasi yang terjadi, maka sebagaimana ungkapan Schmitt, segala normalitas tatanan yang kita alami sekarang perlahan telah bergeser ke dalam ab-normalitas tanpa kita sendiri sadari. Karena kesadaran manusia selalu datang terlambat, apakah kita harus menunggu untuk menjadi sadar dan mawas-diri sampai Carl Schmitt benar-benar bangkit dari kuburnya dan menghantui kita?

Catatan-catatan

[1]Carl Schmitt, The Concept of The Political, terjemahan dan Pendahuluan oleh George Schwab, dengan Pengantar dari Tracy B. Strong, dan Catatan dari Leo Strauss,The University of Chicago Press, 1996, hlm. 26, § 2.

[2]Ibid., hlm. 27-28, § 3.

[3]William Hooker, Carl Schmitt’s International Thought – Order and Orientation, Cambridge University Press, 2009, hlm. 25.

[4]Carl Schmitt, Political Theology – Four Chapters on the Concept of Sovereignty, diterjemahkan oleh George Schwab, Cambridge, Massachusetts: The MIT Press, 1988, hlm. 5, Bab I.

[5]Sindhunata, “Awas, Politik Genderuwo,” dalam KOMPAS, Selasa, 18 Maret 2014, hlm. 6.

[6]Ibid., paragraf 7.

[7]Carl Schmitt, The Concept of The Political, hlm. 69, § 8.

[8]Ibid., hlm. 71.

[9]Michael Marder, Groundless Existence – The Political Ontology of Carl Schmitt, The Continuum International Publishing Group Inc, 2010, hlm. 54-57.

[10]Perihal ‘kediktaturan media’ dan ‘kepentingan otoriterisme’ di balik propaganda media dapat dibaca dalam: Noam Chomsky, Media Control – The Spectacular Achievements of Propaganda, The Open Media Series, 1997.

3 thoughts on “Sejenak Menyimak Lirih Suara Carl Schmitt

  1. hanna mengatakan:

    Terima kasih untuk artikel filosofis yang sangat mencerahkan ini. Untuk Kak Ito Prajna terlebih. Apa bisa dibilang kalau Carl Schmitt dan fenomenologi sebelum itu, menjadi dasar dari buku Chantal Mouffe dan Ernesto Laclau? Karena ini buku pegangan kunci para aktivis gerakan sosial pro demokrasi. Terima kasih sebelumnya. Salam

    • Tim FENOPOL mengatakan:

      Banyak terima kasih untuk tanggapan dan pertanyaan yang berbobot dari Sdri. Hanna. Sebisanya kami dari Tim Fenopol PK (bersama Mas Ito) akan coba menjawab dan memenuhinya.

      Memang betul adanya bahwa buku “Hegemony and Socialist Strategy” dari Chantal Mouffe dan Ernesto Laclau menyebut fenomenologi Husserl (di bagian Pengantar) dan Carl Schmitt (di banyak bagian). Tetapi apakah memang fenomenologi dan Carl Schmitt menjadi dasar dari keseluruhan buku itu tentu perlu dicermati lagi dan dibaca ulang. Apalagi kalau tidak keliru buku tersebut sudah ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Tentu kemungkinan itu ada, tetapi kepastian tentang pengandaian fenomenologi&Carl Schmitt di balik buku tersebut kami belum dapat menegaskannya. Yang jelas, baik Mouffe dan Laclau terkenal sebagai tokoh pemikir neo-marxis, dan bukan fenomenolog.

      Sebagaimana dapat diketahui dari sejarah filsafat, fenomenologi menjadi pintu masuk ke dalam berbagai gerakan pemikiran kontemporer, dari Hermeneutika, Eksistensialisme, Postmodernisme, Post-strukturalisme, Teori Kritis, termasuk juga Neo-Marxisme. Dalam kaitan ini, tentu pengaruh fenomenologi dapat dirasakan di dalam tulisan-tulisan beberapa pemikir Marxis tersebut, termasuk Mouffe dan Laclau. Mengenai apakah fenomenologi, dalam pemikiran mereka, dipahami secara tepat atau justru disalahpahami tentu ini persoalan yang perlu dikaji lebih lanjut.

      Salam

      Tim FENOPOL

  2. JC mengatakan:

    It would be nice if this article is available in english, so it can be accessed by people like me who only have limited fluency in Bahasa. Thank you

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s