TRINITAS KEKUASAAN

Ito Prajna-Nugroho

Salvador Dali - Autumn Cannibalism 1936 - oil on canvas

“Logika, inferensi, epistemologi adalah pra-kondisi bagi kekuatan militer saat ini.” [1] 

Kutipan di atas menunjuk pada fenomena yang oleh Alvin Toffler disebut sebagai pergeseran kekuasaan (powershift) di abad ke-21. Kekuasaan memiliki logika atau cara kerjanya yang tersendiri dan mendasar. Toffler adalah pemikir yang di pertengahan abad ke-20 telah menyatakan secara antisipatif dan apa adanya bahwa logika kekuasaan itu telah mengalami pergeseran di lapis yang paling mendasar. Jika sebelumnya kekuasaan bergerak karena kekuatan fisik (dominasi lewat otot dan senjata) dan kekuatan uang (dominasi lewat penawaran atau pengambilan keuntungan material), maka di masa depan (dan masa kini) kekuasaan bergerak lewat kekuatan pengetahuan sebagai perantaranya. Persisnya: kekuasaan meluas dan menyebar lewat cara bagaimana pengetahuan diperoleh, diolah, ditafsirkan, dan dipahami (atau: disalahpahami secara sengaja). Singkatnya, bukan lagi senjata dan uang, melainkan epistemologi (apa yang dapat saya ketahui dan bagaimana sesuatu dapat diketahui) yang menjadi poros penggerak kekuasaan di masa depan.

Di tingkat tatanan geopolitik, dunia pertahanan dan militer adalah garda depan setiap negara dalam menjamin kepentingan serta mempertahankan sekaligus memperluas jangkauan kekuasaannya masing-masing. Pergeseran kekuasaan yang terjadi di lapis epistemik ini juga mengubah karakter dunia pertahanan dan militer dari yang awalnya menekankan pada piranti keras seperti senjata, kemudian bergeser menekankan pada piranti lunak seperti teknologi informasi dan intelijen. Infrastruktur yang bersifat lunak ini, meskipun lunak tetapi memiliki daya gebrak serta daya gerak yang jauh lebih kuat dari peluru dan moncong senjata. Itulah sebabnya Toffler menyebut bahwa pra-kondisi kekuatan militer saat ini terletak pada logika, inferensi, dan epistemologi.

Daya fisik, uang, dan pengetahuan merupakan tiga hal yang berbeda namun tidak terpisahkan satu sama lain. Ketiga hal tersebut membentuk apa yang oleh Toffler disebut sebagai triad kekuasaan atau trinitas kekuasaan yang saling mengandaikan dan terikat erat satu sama lain dalam satu kesatuan yang tidak terpisahkan. [2] Namun demikian, meskipun saling mengandaikan dan saling terikat sebagai suatu kesatuan, ketiganya tetap berbeda satu dengan yang lain. Perbedaan di antara trinitas kekuasaan dalam hal derajat efektivitas serta peran yang berbeda di antara ketiganya, perbedaan ini merupakan gerigi yang menggerakkan pergeseran kekuasaan di abad ke-21 dan seterusnya. Dalam bahasa Toffler, perbedaan itu berkenaan dengan satu hal pokok, yaitu derajat kualitas yang terkandung dalam kekuasaan. Maka kekuasaan tidak sekadar berkenaan dengan kuantitas kewenangan atau jumlah banyak/sedikitnya kewenangan yang dimiliki (misal: jumlah suara, jumlah uang, jumlah senjata, dan lainnya). Sebaliknya, kekuasaan justru berkenaan erat dengan derajat kualitas yang terkandung dalam suatu entitas kekuasaan. Persoalan tentang banyak ataupun sedikit dalam hal kualitas ini tidaklah relevan.

Kekuatan fisik misalnya, memang sungguh penting dan selalu diperlukan. Inilah juga mengapa setiap negara berdaulat setidaknya pasti berupaya untuk memenuhi jumlah minimal tentara yang dibutuhkan untuk mempertahankan wilayahnya. Hukum misalnya juga bergantung pada adanya kekuatan fisik di latar belakang yang dapat segera bertindak saat diperlukan. Kekuatan fisik selalu bekerja melalui daya ancaman dan kekuatan yang keras. Ancaman dan kerasnya efek yang dapat ditimbulkan inilah yang justru secara paradoksal memungkinkan terciptanya tatanan dan ketertiban dalam hidup sehari-hari. Hanya saja setiap ancaman, karena sifatnya yang mengancam, justru dapat membawa pada hasil yang berlawanan, yaitu perlawanan, dendam, dan keadaan chaos (keadaan tanpa-tatanan). Demikian juga misalnya banyaknya pasukan tidak serta merta menjamin kemenangan. Kemenangan dapat dihasilkan bahkan oleh pasukan dengan jumlah yang jauh lebih kecil tetapi lebih efektif. Kekuasaan yang semata bersandar pada kekuatan fisik mungkin saja efektif di masa-masa sebelum Masehi hingga Abad Pertengahan. Tetapi kekuatan fisik ini sekarang justru terbukti tidak efektif dan kontra-produktif, khususnya setelah ditemukannya mesin cetak dan teknologi informasi. Karena sifatnya justru seringkali kontra-produktif dan tidak efektif, maka kekuatan fisik termasuk ke dalam trinitas kekuasaan dengan derajat kualitas yang paling rendah. [3]

Satu tingkat di atas kekuatan fisik adalah kekuatan uang atau kekayaan. Uang disebut sebagai kekuasaan dengan derajat kualitas menengah. Disebut sebagai kualitas menengah sebab uang, berbeda dari kekuatan fisik, memiliki daya persuasi yang lebih kuat dari sekadar ancaman. Uang dapat menggerakkan dengan segala cara berbagai hal baik secara positif (untuk mendukung kekuasaan) maupun negatif (untuk mencegah munculnya kekuasaan lain). Tanpa uang setiap organisasi dan institusi niscaya mandul secara sosial-ekonomi, dan karena itu menjadi sulit untuk mempertahankan atau memperluas jangkauan kekuasaannya. Hanya saja, kualitas kekuatan uang tergantung sepenuhnya pada kuantitasnya. Persis inilah letak kelemahan/keterbatasan uang sebagai daya trinitas kekuasaan. Inilah sebabnya mengapa uang disebut sebagai trinitas kekuasaan dengan derajat kualitas menengah: uang memiliki daya kuasa yang kuat, tetapi tidak sepenuhnya kuat. [4] Lagipula, uang seringkali tidak dapat membeli kesetiaan, suara hati, dan permanensi.

Apa yang disebut oleh Toffler sebagai trinitas kekuasaan dengan derajat kualitas tertinggi adalah pengetahuan. Dalam bahasa Toffler:

Pengetahuan memperlihatkan diri tidak hanya sebagai sumber dari kekuasaan dengan derajat kualitasnya yang tertinggi, melainkan juga menyatakan diri sebagai unsur yang terpenting dalam (memanfaatkan) kekuatan fisik dan uang. Pengetahuan telah bergeser dari sekadar pelengkap kekuatan uang dan fisik, menjadi dasar yang paling hakiki. Pengetahuan faktanya merupakan kekuatan yang terkuat. Inilah kunci menuju pergeseran kekuasaan yang terbentang di depan, dan ini juga menjelaskan mengapa pertarungan untuk mengendalikan pengetahuan dan sarana-sarana komunikasi tengah terjadi dengan sengit.[5]

Satu dari sekian banyak sebab mengapa pengetahuan menjadi trinitas kekuasaan dengan derajat kualitas tertinggi adalah sifatnya yang lintas batas. Artinya, pengetahuan bergerak melintasi dan melampaui batas-batas waktu-historis, batas-batas geografis, dan batas-batas kelas sosial-ekonomi. Demikian juga pengetahuan tidak tergantung dari kuantitas informasi yang dimiliki, melainkan sangat ditentukan oleh kualitas cara memahami (dan memanfaatkan) pengetahuan yang terbatas (yang bisa saja hanya sedikit) dengan cara yang paling optimal serta efektif untuk mencapai tujuan tertentu. Ia (mereka) yang tahu bagaimana cara mengolah pengetahuan yang tersedia di tangan secara tepat dan cermat adalah ia (mereka) yang memiliki akses langsung kepada kekuatan fisik dan kekuatan uang. Karena sifatnya yang lintas batas dan sangat fleksibel inilah maka pengetahuan disebut Toffler sebagai ‘sumber kekuasaan yang paling demokratis’. [6]

Apa yang menarik dari pembahasan Toffler adalah pengetahuan tidak dipahami secara terbatas hanya dalam arti informasi dan data, melainkan lebih luas dari itu mencakup juga kesadaran manusia akan diri dan dunianya. Inilah sebabnya mengapa pengetahuan melibatkan juga pengetahuan akan fakta-fakta yang lebih dari sekadar fakta empiris, seperti misalnya fakta-fakta dalam dunia simbol, fakta-fakta mengenai kesadaran imajinatif yang dimiliki oleh seseorang ataupun kelompok masyarakat tertentu, fakta-fakta dalam nilai-nilai sosio-kultural serta nilai-nilai ideologi yang tidak disadari tetapi bekerja dalam hidup sehari-hari. “Fakta-fakta” inilah yang terkandung dalam pengetahuan dalam artinya yang luas. Mereka yang peka, cermat, dan secara tepat bisa ‘membaca’ fakta-fakta epistemologis ini adalah mereka yang memiliki kendali atas kekuasaan dan memiliki cara programatis tentang bagaimana kekuasaan itu dapat digunakan secara efektif.

Mungkin tanpa kita sadari, kita secara tidak sadar telah dikendalikan oleh “mereka-mereka” yang mampu membaca fakta-fakta epistemologis itu, dan tahu cara bagaimana memanfaatkannya tanpa membuat kita yang dikuasai merasa terancam. Justru inilah bentuk kekuasaan yang paling kuat, paling berdaya, dan untuk orang yang dikuasai merupakan bentuk penguasaan yang paling melumpuhkan. Tetapi apapun itu, paling tidak untuk kita yang sedang berhajat ‘pesta’ demokrasi, Toffler bisa membuat kita mawas-diri untuk menyadari bahwa kekuasaan tidak dapat diperoleh dengan kekuatan fisik dan uang belaka, juga bukan oleh pencitraan dan opini media semata, melainkan oleh keluasan dan kedalaman pengetahuan kita akan realitas politik yang melampaui batas-batas prosedur elektoralisme dan parlementarisme.***

 

Catatan Rujukan

[1] Alvin Toffler, Powershift – Knowledge, Wealth, and Violence at the Edge of the 21st Century (New York: Bantam Books, 1990), 17.

[2] Ibid., 14.

[3] Ibid., 15.

[4] Ibid., 19.

[5] Ibid., 18.

[6] Ibid., 20.

2 thoughts on “TRINITAS KEKUASAAN

  1. JC mengatakan:

    It would be nice if this article is available in english, so it can be accessed by people like me who only have limited fluency in Bahasa. Thank you

  2. Bill VP mengatakan:

    Kepada Civitas Akademika FENOPOL, Selamat atas terpilihnya Gen. TNI. Ryamizard Ryacudu untuk mengemban amanat tertinggi di Kementerian Pertahanan Republik Indonesia! Keep up te good thinking and ideas!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s