MEDITASI FENOMENOLOGIS DAN AKSI POLITIS

Rembrandt van Rijn - The Storm - 1633 - Oil on canvasTidak lama setelah kabinet baru pimpinan presiden Joko Widodo diumumkan dan terbentuk, cukup banyak ucapan selamat datang ke beberapa anggota inti Sanggar Pergerakan Kebangsaan, termasuk juga tim Fenopol. Sebabnya tidak lain karena salah seorang menteri yang dipercaya memimpin sebuah kementerian strategis memiliki hubungan persaudaraan dan kebangsaan yang dekat dengan Sanggar PK, dan kedekatan ini telah terjalin sejak lama bahkan sejak awal 2006. Mungkin banyak orang yang tidak terlalu mengenal kawan-kawan Sanggar PK merasa lebih penasaran lagi tentang ‘status ontologis’ institusi tersebut, khususnya kegiatan serta pergerakannya. Mungkin begitu penasarannya orang-orang tersebut hingga merasa perlu nekad ‘nyelonong’ masuk tanpa izin ke akun web http://www.pergerakankebangsaan.org, menyelidiki semua files di dalamnya lewat pintu belakang, yang mengakibatkan macet dan rusaknya media komunikasi Sanggar Pergerakan Kebangsaan.


Pada kenyataannya, semua kegiatan dan pergerakan Sanggar PK serta Fenopol Group dijalankan secara terbuka, dan hasil-hasil penelitian, konferensi studi, rapat koordinasi, serta pemikiran juga kebanyakan telah dipublikasi di web terkait, bahkan dapat diakses secara cuma-cuma tanpa berbayar. Mungkin sulit dipercaya oleh khalayak umum bahwa Sanggar PK dan Fenopol lebih merupakan kelompok studi yang memang dimotori oleh beberapa tokoh progresif yang telah berpengalaman di dunia politik nasional sejak tahun 80an, namun tidak pernah mengejar posisi kekuasaan secara langsung dan vulgar. Ini juga yang membuat Sanggar PK memiliki hubungan yang dekat dengan banyak tokoh politik nasional dan internasional, namun memiliki keterlibatan yang sangat minimal dalam politik praktis kepartaian. Posisi demikian memang secara intensional diperhitungkan dan dijalankan sejak awal secara sadar dan mawas.

Anggota-anggota inti di dalamnya rupanya menyadari bahwa perubahan ke arah kebaikan bersama (summum bonum) tidak dapat digegas secara serampangan, tetapi juga tidak dapat dilepas dibiarkan berlalu begitu saja. Mengambil kata-kata terkenal Otto von Bismarck, jika benar bahwa politik adalah die Kunst des Möglichen (seni menyiasati kemungkinan-kemungkinan), maka tindakan politik senantiasa berada dalam posisi tegang di antara aktualitas kenyataan, peristiwa, dan horizon kemungkinan yang nyaris tanpa batas. Dengan kata lain, tindakan politik senantiasa membutuhkan momen jeda yang bersifat reflektif dan meditatif di tengah arus kepentingan serta peristiwa yang datang meluber. Momen jeda itulah yang justru seringkali menjadi garis penentu kewarasan, ketenangan, serta ketepatan dalam bertindak politis. Terlalu bergegas justru akan menihilkan momen jeda tersebut, dan membuat tindakan politik jatuh ke dalam aktivisme vulgar (meminjam istilah Paulo Freire). Terlalu berpasrah membiarkan segala terjadi begitu saja juga akan membuat tindakan politik jatuh ke dalam pasivisme naïf dan verbalisme. Dalam bahasa tokoh fenomenologi Edmund Husserl, momen jeda (epochē) tersebut menjadi ruang-antara (zwischen-Raum) yang menengahi kesadaran kita dengan dunia kenyataan, dan melaluinya kita mampu mengambil jarak obyektif dengan realitas untuk kemudian melakukan penilaian/pemaknaan ulang atasnya.

Pada momen inilah pentingnya konferensi studi dan dialog pemikiran menjadi terasa. Tanpa paradigma atau kerangka pemahaman yang tepat, realitas akan sering disalahpahami pula. Apalagi jika kita menyadari bahwa kebenaran realitas sangat tergantung pada cara bagaimana kita melihat/memahami realitas tersebut. Bergesernya posisi kita dalam melihat realitas akan mengubah pula kebenaran realitas yang kita lihat. Konferensi-konferensi studi yang telah bertahun-tahun dijalankan Sanggar Pk-Fenopol tidak lain adalah upaya untuk melengkapi para sahabat dan para penggiat dengan dukungan ‘infrastruktur’ kerangka pemahaman yang memadai. ‘Infrastruktur’ kerangka pemahaman ini semakin penting dibutuhkan jika kita mencoba membaca realitas sosial politik Indonesia yang bergulir semakin cepat dan semakin bervariasi.

Penyokong utama dalam membangun ‘infrastruktur’ pemahaman ini tidak lain adalah Bapak Sudaryanto sebagai pendiri Komite Nasional Pergerakan Kebangsaan, yang sendiri merupakan anggota parlemen fraksi PDI 1992-1997, dan anggota Dewan Pertimbangan Agung bidang Pertahanan 1998-2002. Melalui Bapak Sudaryanto pula fenomenologi yang awalnya terbatasi oleh tembok akademis di STF Driyarkara ditantang untuk mampu loncat pagar dan berani menjelajah horizon dunia di luar tembok tersebut dalam keluasan serta kedalamannya. Tentu saja dengan terus-menerus kembali ke dalam tembok untuk mengolah momen jeda yang senantiasa membutuhkan refleksi akademis-filosofis yang rigorus.

Mengingat pentingnya momen jeda tersebut, dan untuk memenuhi rasa penasaran yang mungkin tersimpan dalam benak banyak sahabat, berikut ini kami sajikan bahan konferensi studi yang telah lampau dan disajikan oleh Bpk. Sudaryanto sendiri di tengah rapat koordinasi politik di Surakarta pada pertengahan 2012.

Selamat bermeditasi dan beraksi!  (-VIP-)

Klik tautan berikut untuk mengunduh naskah: MEDITASI FENOMENOLOGIS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s